Di tahun 2045, kota Jakarta menjadi tempat
percobaan eksperimen fisika kuantum rahasia.
Seorang pria bernama Rizal, seorang detektif
swasta dengan lisensi tertutup, ditangkap karena
menyelidiki hilangnya seorang ilmuwan di
laboratorium rahasia milik perusahaan tech
nasional. Ia dipenjara di sebuah ruangan yang
tak memiliki dinding—hanya gelombang energi yang
membatasi ruangnya. Di sana, ia menemukan bahwa
kebebasannya tidak bisa dibeli, dihargai, atau
ditukar: hanya bisa didapat lewat perjalanan
waktu.
Suatu malam, saat sistem keamanan sedang
bermasalah, Rizal berhasil melompat ke masa lalu—
1983. Dunia yang ia temui jauh lebih sederhana.
Tidak ada smartphone, tidak ada drone pengawas,
hanya desadesa dengan hutan yang masih utuh dan
masyarakat yang hidup dengan cara tradisional.
Namun, ia juga membawa sesuatu: alat pelacak
kuantum yang tersembunyi di dalam pakaiannya.
Alat itu membuatnya selalu terpantau oleh
entitas tak terlihat, entitas yang menginginkan
teknologinya.
Di desa Cianjur, Rizal bertemu dengan seorang
wanita bernama Siti, seorang dukun lokal yang
mengira ia adalah lelaki dari dunia mistis.
Dengan bantuan Siti, ia berusaha menghilangkan
jejak digitalnya. Namun, setiap kali ia mencoba
menghapus data, alat pelacak kuantum
mengaktifkan efek samping: setiap orang yang
menyentuhnya mati secara tibatiba, seolaholah
diserap oleh dimensi lain.
Rizal menyadari bahwa teknologi yang ia bawa
bukan sekadar alat, tapi juga ancaman bagi dunia.
Ia pun memutuskan untuk menghancurkannya. Tapi,
bagaimana? Di era ini, tidak ada listrik, tidak
ada mesin canggih. Hanya satu cara:
melemparkannya ke air terjun terdalam di Pulau
Sulawesi.
Di sana, ia menjumpai kembali entitas yang
mengawasi. Entitas itu memberinya pilihan:
kembalikan teknologi atau tinggal di masa lalu
selamanya. Rizal memilih yang pertama. Dengan
air terjun sebagai penghalang, ia membuang alat
pelacak itu ke dalam jurang. Dan saat itu,
langit berubah warna—tanda bahwa dunia telah
berubah.
Kini, teknologi itu tidak lagi ada. Tapi, Rizal
kembali ke masa kini sebagai orang biasa, tanpa
lisensi, tanpa nama. Ia tidak lagi detektif. Ia
hanya seorang pria yang melarikan diri dari masa
depan, dan berhasil menemukan kembali masa lalu—
sebuah kisah tragis yang diakhiri dengan humor,
karena ia akhirnya bisa hidup tanpa mengganggu
dunia.


