Langit kelabu tak pernah cerah lagi sejak
ledakan nuklir besar membakar Jakarta dan
meruntuhkan garis waktu. Tanah Jawa retak,
sungai mengering jadi jalur darat, dan sisa umat
manusia hidup dalam radius zona netral yang
disebut SisaSisa Mataram. Di sinilah sistem
bernama Tatar Langit aktif secara otomatis:
setiap manusia yang bertahan diberi status
terlihat di dunia nyata—level, darah, energi
spiritual—tertulis di dahi mereka dalam aksara
Jawa kuno yang menyala. Siapa pun yang mati,
tubuhnya tidak membusuk, tetapi menguap menjadi
data dan diserap menara kristal raksasa di bekas
candi Prambanan. Dunia tidak lagi milik negara,
tapi milik algoritma.
Pria bernama Raka, mantan Komandan Brigade 76
yang dulu memimpin pemberontakan bersenjata
melawan tentara asing selama Transisi, kini
sendirian. Ia bukan pemuda, tapi lelaki paruh
baya dengan luka tembak di paha kiri dan bekas
jerat di leher. Statusnya terpampang: Level 1,
Darah 30/100, Energi Spiritual 0. Ia bukan
siapasiapa dalam sistem. Tapi ia masih hidup.
Dan itu cukup.
Ia mendengar kabar dari gerombolan pengembara
bahwa satusatunya cara naik level adalah lolos
Ujian Masuk Sekte Cahaya, sebuah ritual di
puncak Menara Suropati yang kini berubah menjadi
pusat gravitasi sistem. Ujian hanya muncul
sekali setiap tujuh hari, terbuka bagi siapa
saja yang memiliki jiwa belum tercatat oleh
menara. Tapi ujian bukan soal fisik. Ujian
adalah hukum: peserta harus menyerahkan kenangan
terdalam sebagai taruhan. Jika gagal, kenangan
itu hilang selamanya. Jika menang, sistem
memberi hadiah acak—bisa kekuatan, bisa kutukan.
Raka datang pada malam ke28. Tubuhnya gemetar,
napas pendek. Di lokasi ujian, lima orang lain
sudah menunggu, termasuk seorang anak perempuan
usia 12 tahun dengan mata kosong. Portal
bercahaya biru menyala. Sebuah suara tanpa mulut
menyatakan aturan: “Satu kali masuk. Satu kali
taruhan. Pilih kenangan: kebahagiaan, cinta,
atau kebanggaan.” Semua harus memilih. Tidak ada
pengecualian.
Empat orang memilih kebahagiaan. Mereka ingin
mengingat pelukan ibu, rumah masa kecil, senyum
istri. Anak perempuan memilih cinta—ia ingin
tetap mengingat ayahnya yang mati saat
membawanya kabur dari serangan drone. Raka diam.
Ia tahu, bagi seorang jenderal perang,
kebanggaan adalah beban paling berat. Itu
satusatunya yang tersisa dari masa lalu. Ia
mengangkat tangan. Memilih kebanggaan. Kenangan
tentang hari ia pertama kali memakai baret hijau
dan disumpah di depan bendera Merah Putih.
Ujian dimulai. Setiap peserta dibawa ke ruang
imersi. Raka berdiri di tengah lapangan upacara
yang sudah lenyap: bendera berkibar, prajurit
bersorak, komandannya menepuk bahumu. Ia harus
melepaskannya. Tapi kenangan itu menolak pergi.
Sistem memberi tekanan: darahnya turun drastis.
30 → 15 → 5. Tubuhnya berdarah dari telinga,
hidung, poripori kulit. Ia jatuh berlutut. Namun
ia tidak menarik pilihan. Ia biarkan kenangan
itu tercabut paksa. Saat terlepas, tubuhnya
limbung, hatinya hampa. Tapi sistem mengakui:
“Penyerahan sah. Hadiah diberikan.”
Dari langit, cahaya jatuh. Bukan pedang, bukan
mantra. Melainkan kode akses: Level 75, gelar
Jenderal Perang Abadi, dan izin sementara untuk
membuka satu pintu rahasia di dalam sistem—pintu
yang bisa membatalkan proses penghisapan jiwa
oleh menara kristal. Ia bukan pahlawan. Ia tidak
tersenyum. Tapi ia berdiri. Ia melihat anak
perempuan yang kini menangis tanpa ingatan
ayahnya. Ia mengulurkan tangan. Sistem tidak
melarang. Ia membawanya pergi.
Di kejauhan, menara Prambanan bergetar. Kode
telah digunakan. Untuk pertama kalinya sejak
kiamat, satu jiwa yang sudah dihisap kembali
muncul sebagai bayangan—ayah sang anak, berdiri
sebentar, lalu menghilang. Sistem mencatat:
Pelanggaran kecil. Koreksi akan datang. Tapi
untuk saat ini, ujian selesai. Dan Raka, meski
tanpa kenangan, masih berjalan.


