Pria terjebak dalam puingpuing ibukota yang
hancur, berlari dari suara letusan senapan dan
bau api. Di sela kekacauan, ia menemukan bayi di
bawah reruntuhan gereja tua, kulitnya berkilau
seperti logam. Dia membawa bayi itu ke gua dekat
sungai, di mana para pengungsi menyembunyikan
diri dari pasukan asing.
Sistem Game muncul ketika bayi itu mulai
berkatakata dengan bahasa yang tidak dikenal
semua orang. Suara itu menggema di kepala Pria,
memberinya petunjuk tempat aman, jalan keluar
dari kota, dan cara membangun kembali komunitas.
Tapi setiap kali dia mengikuti petunjuk, sesuatu
hilang: air, makanan, atau satu dari penduduk
gua.
Selir Cerdik menemukan Pria di gua, melihat bayi
itu. Dia memohon untuk mengadopsi anak itu,
berjanji akan melindungi. Pria menolak, tapi
tiga hari kemudian, gua dibakar. Selir Cerdik
datang dengan dua orang lain, membawa senjata
dan bantuan. Mereka pergi bersama, meninggalkan
mayat dan api.
Adopsi Anak Ajaib menjadi titik balik. Bayi itu
mengubah sistem Game dengan memperkuat
kepercayaan antara manusia. Tapi kepercayaan itu
rapuh. Saat mereka sampai di desa, penduduk
mengira bayi itu makhluk jahat. Pria dipaksa
menyerahkan anak itu, tapi Selir Cerdik menolak.
Mereka bertarung di tengah hujan, senjata
berbenturan, dan bayi itu berteriak. Suara itu
menghancurkan senjata, menghentikan pertumpahan
darah.
Gelisah menggerogoti semua orang. Pria merasa
terjebak antara kebenaran dan keselamatan. Selir
Cerdik merasa terjajah oleh kepercayaannya
sendiri. Bayi itu tetap diam, tapi matanya
berubah menjadi cahaya putih.
Sistem Game akhirnya terungkap: ini bukan kiamat
biasa. Dunia baru dibangun di atas runtuhan lama,
diatur oleh entitas yang memilih pemimpin
melalui ujian. Pria dan Selir Cerdik adalah
pilihan itu. Tapi ujian tidak bisa dilewati
tanpa korban.
Di malam terakhir, Pria memutuskan untuk
menghancurkan sistem. Dia melemparkan bayi itu
ke sungai, berharap bisa membatalkan permainan.
Tapi bayi itu muncul kembali, mengambilkannya,
dan berbisik: "Kita harus hidup bersama."
Kota hantu tetap ada, tapi sekarang ada harapan.
Pria dan Selir Cerdik membangun kamp di tepi
sungai, menjaga bayi itu, dan menunggu saat
dunia baru siap menerima mereka.


