Di tengah kota yang gelap dan sunyi, seorang
pria bernama Arman membuka toko roti miliknya,
satusatunya tempat yang masih bertahan dari
kiamat yang melanda negeri ini. Dunia berubah
drastis setelah bumi diliputi kabut merah yang
membuat manusia kehilangan arah, kepercayaan,
dan kehidupan normal. Hukum lama lenyap,
sementara kelompok baru dengan kekuatan gaib dan
niat jahat mulai membangun kerajaan mereka
sendiri.
Arman adalah orang biasa, tapi ia memiliki
kemampuan unik: ia bisa melihat bayangan para
korban yang meninggal karena kiamat. Bayangan
itu sering menunjukkan sesuatu, seperti petunjuk
atau kesalahan masa lalu. Namun, saat sebuah
mayat ditemukan di belakang toko rotinya—mayat
seorang pesaing bisnisnya—bayangan itu tidak
menunjukkan kebenaran, justru menyembunyikan
sesuatu.
Ketika bisnis Arman mulai mengalami penurunan
tajam, ia menyadari bahwa ada sabotase
terorganisir yang dilakukan oleh seseorang
bernama Dedi, seorang antagonis licik yang dulu
pernah bekerja dengannya. Dedi bukan hanya ingin
menghancurkan bisnis Arman, tapi juga ingin
menguasai seluruh pasar makanan di kota yang
hancur ini. Ia menggunakan kekuatan gaib dari
kelompok kiamat untuk mengacaukan pasokan bahan
baku dan menciptakan rumor palsu tentang
kebersihan toko Arman.
Arman memutuskan untuk menggali lebih dalam. Di
malam hari, ia mengikuti jejak bayangan
korbankorban kiamat, sampai ia menemukan sebuah
gua di hutan yang penuh dengan tulisan ajaib dan
cairan aneh. Di sana, ia menemukan bukti bahwa
Dedi sedang melakukan ritual untuk memperkuat
kekuatannya. Tapi, ritual itu juga mengganggu
keseimbangan alam semesta yang sudah rapuh.
Dalam satu malam, Arman menghadapi Dedi di gua
itu. Mereka bertarung dengan senjata tak kasat
mata, di mana bayangan korban kiamat menjadi
penghalang dan saksi. Dedi, dengan niat jahatnya,
mencoba mengambil kekuatan dari Arman, tapi
justru terjebak dalam lingkaran energi yang sama
sekali tidak terkendali. Gua runtuh, dan Dedi
lenyap ditelan oleh kekuatan yang ia ciptakan
sendiri.
Keesokan harinya, Arman bangun di depan toko
rotinya, dengan bayangan korban kiamat yang kini
tenang. Kota masih gelap, tapi bisnisnya kembali
stabil. Ia memahami bahwa meski dunia hancur,
ada halhal kecil yang bisa diselamatkan. Dan ia
akan menjaga toko rotinya sebagai simbol
keteguhan di tengah kiamat.


