Di tengah kota Jakarta yang berubah menjadi
kuburan, Andi, seorang preman pasar dengan
reputasi tajam, menemukan sebuah surat lama di
saku jas bekas milik temannya, Rudi. Surat itu
menyebutkan bahwa Rudi telah memalsukan
kehadiran Andi di suatu pertemuan rahasia,
mengakibatkan Andi dituduh sebagai pengkhianat
oleh komunitas perlawanan.
Hari itu, cuaca mulai gelap. Bumi bergetar,
langit merah, dan hujan asam menghujani kota.
Bencana alam yang tidak terduga mengubah Jakarta
menjadi tempat yang tak lagi aman. Pohonpohon
tumbang, bangunan runtuh, dan manusia saling
berlarian tanpa arah. Sistem listrik mati,
telepon tidak bekerja, dan hanya suara angin
serta jerit kesakitan yang terdengar.
Andi, yang biasanya menghindari halhal serius,
terpaksa bertindak. Dia menemui sosok wanita
bernama Siti, seorang mantan pacarnya, yang
diamdiam membantu gerakan perlawanan. Siti
memberinya petunjuk tentang lokasi Rudi, tapi
hanya jika Andi bisa menyelesaikan misi: mencuri
obat antiradiasi dari sebuah gudang yang disita
pemerintah.
Gudang itu berada di area bekas pelabuhan, kini
dipenuhi sampah dan mayat. Andi dan dua orang
lainnya masuk, tapi salah satu dari mereka
tertangkap oleh pasukan pemerintah. Andi sendiri
terkena racun dari sampah radioaktif, membuatnya
kehilangan penglihatan sementara.
Dalam kegelapan, dia mendengar suara Rudi.
Ternyata, Rudi selama ini sudah menjual
informasi kepada pihak musuh, termasuk namanama
anggota perlawanan. Tapi Rudi juga memiliki
alasan: ia ingin melindungi keluarganya dari
pembunuhan.
Siti, yang mengetahui semua ini, memilih untuk
tidak membunuh Rudi. Sebaliknya, dia
memperbolehkan Andi untuk menentukan nasibnya
sendiri. Di antara reruntuhan, Andi memutuskan
untuk membawa Rudi ke daerah aman, meski berarti
mengorbankan kepercayaannya pada seluruh
komunitas perlawanan.
Bencana masih berlangsung. Kota semakin hancur.
Tapi di tengah kekacauan, Andi dan Siti berdiri
tegak, memegang harapan bahwa meskipun dunia
berantakan, ada sesuatu yang tetap bisa
diselamatkan.


