Jakarta runtuh setelah langit retak tujuh hari
berturutturut. Listrik padam selamanya. Hujan
abu turun dua kali sehari. Tanaman mati. Sungai
mengental. Yang hidup bersembunyi di
gedunggedung tua yang dindingnya mulai ditumbuhi
lumut hitam—tanda dunia sudah berganti mekanisme:
bumi bernapas lewat celahcelah retakan,
mengeluarkan uap mematikan yang hanya bisa
ditahan oleh darah tertentu.
Kampus UI Depok menjadi benteng sementara bagi
kelompok pelarian. Mereka yang masih bisa
membaca buku cetak dijadikan pemimpin. Seorang
pria muda, Raka, menjadi penjaga malam. Ia bukan
petarung, bukan pemimpin, tapi ia rajin. Ia
membersihkan sumur, menjemur pakaian, menulis
jadwal pembagian air dengan kapur. Ia dikenal
sebagai orang yang tak pernah meninggalkan tugas—
ciri khas channel Pria yang diamdiam menjadi
tulang punggung komunitas tanpa banyak bicara.
Suatu pagi, ia menemukan gadis itu tergeletak di
bawah pohon mahoni yang kering. Napasnya pendek.
Kulitnya dingin. Ia bukan warga benteng. Tapi
Raka membawanya masuk, melanggar aturan ketat:
tidak boleh membawa orang luar. Aturan itu
dibuat karena satu insiden: dua minggu lalu,
seorang penyusup membawa virus yang membuat lima
belas orang menggigil sampai mati. Tapi kali ini,
Raka memilih melanggar. Ia merawatnya diamdiam
di gudang bekas laboratorium kimia. Memberinya
bubur dari tepung singkong dan air rebusan daun
kemangi.
Gadis itu bernama Lani. Ia tak ingat masa lalu.
Tapi ia punya kebiasaan aneh: ia tidak pernah
makan di siang hari. Dan jika bulan purnama
muncul di balik kabut abu, ia menghilang selama
tiga jam. Raka mencarinya sampai ke dasar kolam
renang kering. Di sana, ia melihatnya berdiri di
tengah genangan air keruh, tangannya menyentuh
permukaan, dan air itu mendidih perlahan.
Raka tak lari. Ia diam. Ia mulai mengerti: Lani
bukan manusia biasa. Ia adalah Vampir Purba—
makhluk yang selamat dari zaman sebelum catatan
sejarah. Konon, mereka hidup dengan menyerap
napas bumi melalui kulit, bukan minum darah.
Tapi sejak dunia rusak, cara itu gagal. Mereka
harus menyentuh darah langsung untuk bertahan.
Lani adalah yang terakhir. Ia datang ke kampus
bukan untuk berlindung, tapi untuk mencari
relawan—seseorang yang rela memberi darahnya
tanpa paksaan, sebagai bagian dari ikatan lama
yang disebut Sumpah Jiwa.
Hubungan mereka tumbuh tanpa kata. Raka menaruh
bunga kering di bantalnya. Lani menyembuhkan
luka di tangan Raka setelah ia tergores besi
berkarat. Mereka duduk bersebelahan di atap
gedung, memandang langit kelabu. Cinta itu nyata,
meski tak pernah diucap. Ini adalah Romansa
Kampus dalam bentuk paling asing: cinta yang
tumbuh di antara reruntuhan, tanpa janji, tanpa
pelukan, hanya kehadiran.
Tapi dunia baru itu ganas. Aturan alam berubah:
semakin sering darah manusia digunakan untuk
menyambung nyawa makhluk purba, semakin cepat
retakan di bumi melebar. Darah adalah
katalisator—dan Lani menyadarinya terlambat. Ia
mulai mimisan setiap kali bulan muncul. Tubuhnya
menolak eksistensinya sendiri.
Pada malam terakhir bulan purnama, Raka
menemukan catatan kecil di dalam buku biologi
yang selalu dibacanya. Gambar tangan yang saling
terhubung oleh garis merah. Di bawahnya tertulis:
Jika aku pergi, jangan cari. Aku bukan milik
waktu ini.
Ia mengejar Lani sampai ke pusat retakan utama—
bekas lapangan tenis. Angin kencang. Abu
beterbangan. Ia melihatnya berdiri di tepi celah
besar, tubuhnya bersinar redup. Ia tahu apa yang
akan terjadi. Ia berlari. Menarik tangan Lani.
Tapi Lani menolak. Dalam satu gerakan cepat, ia
menggigit pergelangan tangan Raka—bukan untuk
minum, tapi untuk mentransfer sisa kekuatannya.
Darah Raka mengalir ke tubuh Lani. Tapi bukan
untuk menyelamatkan dirinya. Ia menggunakan
kekuatan itu untuk menyegel retakan—dengan
tubuhnya sebagai poros. Tulangnya retak.
Kulitnya menghitam. Ia berdiri tegak,
memancarkan cahaya biru dari dalam dada, menarik
semua retakan menuju dirinya. Proses itu memakan
tubuhnya perlahan.
Pagi datang. Abu berhenti turun. Retakan
tertutup. Kampus masih berdiri. Raka hilang. Di
tempat ia berdiri, tumbuh pohon kecil—daunnya
ungu, akarnya menyentuh inti bumi.
Komunitas menyebutnya hutan suci. Tak ada yang
boleh menebang. Tak ada yang boleh berteriak di
dekatnya. Karena pada malam tertentu, jika bulan
penuh muncul, daundaun itu bergetar—seolah ada
yang masih menjaga.
Pengorbanan Diri bukan pilihan. Itu konsekuensi
dari cinta yang tumbuh di era yang salah. Dunia
baru lahir, bukan dari api, tapi dari sunyi yang
ditinggalkan. Suasana tetap Biadab—alam tak
mengenal belas kasihan, dan cinta pun harus
membayar dengan lenyapnya diri.


