Jakarta bergetar bukan karena gempa, tapi

ledakan di kompleks laboratorium BioNusantara.

Asap hitam membubung dari basement gedung yang

seharihari menjadi markas riset eksperimen

genetika rahasia. Pemerintah menutup akses

informasi, namun rekaman bocor ke publik: para

korban uji coba—pekerja kontrak asal desa—mulai

bangkit tanpa kendali, kulit membusuk, gerakan

kaku, tapi insting menyerang tajam. Itu bukan

wabah alami. Itu pelarian dari proyek

"EternaCell", klaim imortalitas buatan yang

gagal total.

Pria bernama Darmo, penulis fiksi harian di

portal daring, dulu hanya meliput tren urban dan

gaya hidup. Ia tak percaya pada horor nyata

sampai tetangganya di rusunawa Tanjung Barat

tergigit saat menyelamatkan anak kecil dari

serbuan makhluk pucat. Tubuh si tetangga mulai

berubah malam itu. Darmo merekam semuanya lewat

catatan tangan—bukan untuk buku, tapi sebagai

bentuk perlawanan terakhir terhadap lupa.

Sistem listrik padam selama tiga minggu. Sinyal

internet hilang. Dunia kembali ke zaman pena dan

kertas. Darmo menyadari sesuatu: para zombie

tidak menyerang orang yang sedang menulis.

Mereka berhenti, kepala miring, seolah mendengar

suara batin. Uji coba pertama dilakukan oleh

dirinya sendiri—saat ia purapura menulis di atas

kertas kosong, seekor zombie langsung menerkam.

Tapi ketika ia benarbenar menulis dengan niat

jujur, tubuh busuk itu mundur, seperti

dihentikan oleh gelombang tak kasatmata.

Aturan ini bukan mainmain: hanya tulisan otentik

yang menyelamatkan. Tulisan dusta atau sekadar

formalitas tidak berpengaruh. Ini hukum baru

dunia. Dunia pascakiamat bukan lagi milik

senjata atau kecepatan—tapi milik mereka yang

masih bisa merasa dan mengungkapkannya secara

tulus.

Darmo menemukan arsip internal BioNusantara di

mobil bekas kantor yang terbakar. Data itu

membuktikan: EternaCell menggunakan DNA campuran

manusia dan entitas supranatural lokal—

kuntilanak yang ditangkap dari hutan Jati Luwih—

untuk mempercepat regenerasi sel. Proyek ini

didanai negara diamdiam, tapi dikendalikan oleh

direktur utama yang ingin hidup abadi. Skandal

itu bukan soal korupsi uang, tapi pencurian jiwa

dan manipulasi roh.

Ia membakar data itu. Bukan karena takut, tapi

karena yakin bahwa kebenaran yang disimpan lebih

berbahaya daripada kebohongan yang tersebar. Ia

memilih menulis cerita lain: tentang seorang

ayah yang bertahan hidup demi anaknya, tentang

ibu yang rela jadi umpan agar tetangganya bisa

kabur, tentang petugas kebersihan yang menjadi

pahlawan tanpa nama. Catatancatatan itu ia

tinggalkan di pospos jalanan, di masjidmasjid

kosong, di halte bus yang sudah lapuk.

Suatu pagi, Darmo tidak bangun lagi. Tubuhnya

ditemukan di meja kayu, pena masih digenggam

erat, buku harian terbuka di halaman terakhir.

Tak ada bekas gigitan. Hanya wajah damai, dan

setumpuk kertas basah oleh embun, dibaca oleh

angin. Esok harinya, seorang anak kecil dari

pemukiman liar mulai menulis di halaman yang

sama.

Manusia mungkin punah, tapi cerita tidak.