Desa Ngelo, 2024. Setelah Gunung Lawu meletus
tanpa awan, hujan abu turun selama tujuh hari.
Tanah retak di tengah sawah membuka celah sempit,
dari dalamnya merangkak bayi biru pucat dengan
pupil merah. Tak ada tangis, hanya desir napas
seperti angin malam.
Waginem, janda petani berusia dua puluh delapan
tahun, menggendongnya pulang. Ia melanggar
larapan dukun desa: “Yang lahir dari bawah tanah
bukan manusia, tapi penjaga.” Tapi ia wanita—
bukan pejuang, bukan dukun, bukan istri kedua
camat—maka keputusan itu sepenuhnya miliknya. Ia
namai bayi itu Bayu, karena suaranya bagai
bisikan dahan.
Bayu tumbuh tanpa berkeringat. Kulitnya tidak
hangat. Ia minum susu kental, tapi hanya darah
ayam yang membuat matanya bersinar. Waginem
menyembunyikan ini. Ia menyusui Bayu hingga usia
tiga tahun, meski tetangga mencibir: perempuan
tua masih menyusui? Itu tidak wajar.
Di tahun kelima, listrik desa padam tiap pukul
enam sore. Bukan gangguan PLN—jam berhenti, api
unggun redup, bahkan jam tangan digital membeku.
Dunia modern terkoreksi: siang menjadi 18 jam,
malam memanjang 30 jam. Ilmuwan Jakarta menyebut
fenomena ini "Kemiringan Gaib", tapi rakyat
percaya ini murka leluhur.
Bayu, kini anak lakilaki pendek berambut hitam
doff, dilarang masuk sekolah. Kepala desa
khawatir ia pengaruhi anakanak. Tapi Waginem
memaksanya belajar sendiri. Ia membuat papan
tulis dari triplek bekas peti mati. Ia ajari
Bayu baca, hitung, dan doa pagi. Cinta beda
kasta terbentuk: ibu manusia, anak makhluk yang
dahulu dianggap dewa oleh suku kuno.
Saat Bulan Puasa, Bayu tidak bisa puasa. Ia
pingsan di siang hari jika tidak minum darah.
Waginem sembunyikan ayam potong di lumbung. Tapi
tetangga curiga. Anak kecil tidak lapar, tidak
haus, tidak tidur—apa ini jin? Apa ini vampir
purba yang disebut dalam naskah kuno Kerajaan
Pajajaran?
Suatu malam, mobil dari Jakarta datang. Dua pria
bertopi peci hitam bawa surat resmi: Bayu harus
dibawa ke pusat penelitian. Mereka tunjukkan
stempel Kementerian. Tapi Waginem tahu—itu palsu.
Warna stempel terlalu merah, bukan merah
nasional. Ia kunci pintu. Mobil pergi, tapi
meninggalkan jejak ban dalam bentuk segi enam—
tanda alam bawah sadar mulai rusak.
Bayu berusia delapan tahun. Ia tahu ia bukan
manusia. Ia lihat dirinya di cermin hanya
sebagai bayangan tipis. Tapi ia panggil Waginem
“ibu” setiap pagi. Ia peluk dia walau tubuhnya
dingin. Ia bawa bunga liar dari lereng untuk
diletakkan di depan rumah. Gelisah menyebar:
ayam mati tanpa luka, sumur berbunyi nyanyian
anak, televisi menayangkan wajah Bayu meski ia
tak pernah diwawancara.
Puncaknya saat gerhana bulan total. Seluruh desa
bangun tengah malam. Langit hitam pekat. Tidak
ada bintang. Hanya satu cahaya: dari rumah
Waginem. Bayu berdiri di atap, tangan terbuka.
Tubuhnya menyala biruredup, seperti fosfor di
laut dalam.
Tanah di sekitar desa mulai bergetar. Akar pohon
tumbuh cepat, membentuk lingkaran besar. Di
tengahnya, batu tegak muncul—prisma hitam dengan
ukiran aksara yang belum dikenali. Ini bukan
monumen. Ini pintu. Dan Bayu bukan ancaman. Ia
penjaga zaman sebelum manusia, yang dikubur
dalam tanah saat zaman baru dimulai.
Waginem berlari ke atap. Ia tarik tangan Bayu.
Ia tidak peduli ia bukan manusia. Ia anaknya. Ia
ucapkan satu kalimat: “Kau tetap di sini.”
Pintu tertutup. Cahaya padam. Bayu kembali
menjadi anak kecil. Tapi sejak hari itu, siang
kembali normal. Matahari terbit pukul enam.
Listrik menyala penuh. Hanya satu yang berubah:
setiap malam, di pojok rumah, tanah sedikit
mengembang—seperti napas.
Darah vampir purba tidak punah. Ia tinggal di
dalam cinta seorang wanita desa. Dan dunia
modern, yang dulu menolak yang ganjil, kini
berjalan atas janji diam: bahwa yang lain boleh
hidup, asal ada yang berani memeluknya.


