Di bawah bayangan pohon rindang di kampung kecil

Brebes, seorang lelaki muda bernama Rizal

melangkah perlahan menuju hutan. Ia tak punya

peta, hanya sebuah surat lama yang ditemukannya

di balik tembok penjara. Surat itu menyebutkan

"pintu antar dunia" yang bisa membawanya ke

tempat aman.

Ia adalah anak yatim piatu, dibesarkan oleh

pamannya yang meninggal dalam aksi perlawanan

1948. Saat ia mencoba kabur dari penjara karena

dianggap terlibat dalam organisasi

antipemerintah, polisi menangkapnya. Namun, saat

ia diseret ke sel, sesuatu aneh terjadi—dinding

sel bergetar, dan ruangan berubah menjadi pintu

gelap.

Dari sana, ia masuk ke dunia lain. Bukan dunia

masa depan atau masa lalu, tapi sebuah versi

Indonesia yang tidak pernah terjadi: kotakota

tanpa listrik, tetapi dengan teknologi spiritual

yang memungkinkan manusia berbicara dengan arwah

leluhur. Di sini, kekuatan supernatural

menggantikan sistem pemerintahan modern.

Rizal bertemu seorang wanita bernama Siti,

penyihir lokal yang tahu tentang "pintu antar

dunia". Ia memberinya misi: kembalikan benda

sakral yang hilang—sebuah jam tangan emas dengan

ukiran tulisan Arab. Tanpa jam itu, keseimbangan

antara dua dunia akan runtuh.

Namun, ada aturan ketat: siapa pun yang memasuki

dunia ini harus membayar harga. Setiap hari,

satu kenangan akan lenyap dari ingatannya. Dan

setiap langkah yang ia ambil membuatnya semakin

jauh dari dunia asal.

Di tengah badai, ia bertemu dengan sosok yang

dulu pernah ia cintai—ibu kandungnya, yang

ternyata masih hidup di dunia ini sebagai roh

pengganggu. Ia memilih untuk menyelamatkan

ibunya, meski artinya ia harus meninggalkan

dunia nyata selamanya.

Saat jam tangan kembali ke tempatnya, dunia

paralel mulai menghilang. Rizal tersadar di luar

penjara, dengan satu kenangan yang sudah lenyap:

wajah ibunya. Dunia telah berubah, dan ia kini

hidup dalam kesedihan yang tak terucapkan.

Kekuatan supernatural itu tetap ada, tapi hanya

dalam mimpimimpi yang tak pernah terjawab.