Desa Cililin, 1947. Perang revolusi masih
membekas di tubuh Jenderal Darma, bekas komandan
laskar rakyat yang kini lumpuh separuh badan
akibat serpihan mortir Belanda. Ia kembali ke
rumah bapaknya yang tersembunyi di lereng Gunung
Tangkuban Perahu, membawa hanya pedang karatan
dan ijazah militer yang sudah usang. Desa itu
tenang, tapi bukan lagi tempat yang dikenalnya—
listrik belum masuk, namun anakanak mulai
belajar membaca mantra dari batu bersulur emas
yang muncul tibatiba di tengah sawah.
Putrinya, Sari, gadis dua belas tahun yang
diamdiam rajin menulis aksara kuno di atas daun
pisang, diamdiam mengikuti Ujian Masuk Sekte
Cahaya Bawah Tanah. Ujian itu tidak diumumkan
secara resmi—pesertanya dipanggil lewat mimpi,
dan yang gagal tak bisa bicara lagi selamanya.
Tiga puluh anak desa ikut; dua puluh tujuh kini
bisu, termasuk tetangga dekat yang hanya bisa
menunjuk ke arah gua di hutan bambu setiap kali
ditanya.
Sari lolos. Ia menempelkan telapak tangan ke
batu ujian, dan batu itu meledak menjadi kristal
cair yang meresap ke kulitnya. Saat itulah dunia
bergeser: langit bergetar, listrik padam di
seluruh Jawa Barat, dan semua radio mendadak
memutar lagu kebangsaan dengan suara tanpa
instrumen—seperti dinyanyikan oleh ribuan orang
mati. Teknologi mulai gagal di radius lima
kilometer dari pusat desa. Mobil mogok. Kompas
berputar liar. Hanya yang memiliki darah
kultivator atau jiwa bersih yang bisa menyalakan
api dengan pikiran.
Jenderal Darma melarang Sari masuk sekte. Ia
bakar kitab warisan nenek moyang dengan tangan
sendiri. Tapi ketika ia mencoba memotong pohon
penjaga dengan goloknya, pohon itu menjerit—dan
akarnya merambat ke kakinya, menyembuhkan
lumpuhnya dalam hitungan detik. Aturan pertama
dunia kultivasi menggigit: siapa pun yang
menolak takdir, akan dipaksa menerimanya lewat
penderitaan.
Ia naik ke gua. Di sana, Sari telah berdiri di
tengah lingkaran batu, wajahnya tenang, mata
menyala seperti arang hidup. Ia bukan lagi anak
kecil. Para tetua sekte—yang dulunya petani dan
guru madrasah—telah menyatu dengan roh tanah,
tubuh mereka setengah kayu, setengah manusia.
Mereka menyatakan: Indonesia bukan lagi republik
biasa. Mulai malam ini, setiap desa memiliki hak
untuk memilih antara teknologi atau kultivasi.
Pemerintah belum tahu. Dunia luar belum sadar.
Jenderal Darma menyerahkan pedangnya. Bukan
sebagai simbol kekalahan, tapi sebagai
persembahan. Ia disumpah menjadi Penjaga Utara—
jabatan tertinggi bagi nonkultivator. Tugasnya:
menjaga perbatasan antara dunia lama dan dunia
baru. Malam itu, di puncak gunung, ia berdiri
sendiri, melihat cahaya biru menjalar dari desa
ke desa, dari pulau ke pulau. Lampu listrik
padam satu per satu. Api unggun menyala tanpa
kayu. Anakanak di pelosok mulai belajar
mengapung di atas kolam.
Dunia kultivasi telah kembali—bukan dari
Tiongkok, bukan dari dongeng—tapi dari rahim
tanah Nusantara yang lama tertidur. Dan
Indonesia tak lagi negara yang sama.


