Malam tidak pernah benarbenar gelap di kawasan
industri lama Kota Jakarta. Cahaya lampu kuning
dari tiangtiang reyot menyala tanpa aturan,
padam sendiri menjelang jam dua. Di sana, di
tengah bekas pasar malam yang terbengkalai, para
petarung muncul dari balik gerobak dan tembok
retak. Mereka datang bukan untuk uang, tapi
karena dipanggil oleh suara gendang tanpa pemain.
Seseorang—perempuan berkerudung tebal, wajahnya
hanya tampak garis rahang dan mata yang tidak
pernah berkedip—berdiri di atas timbunan karung
plastik. Ia bukan petarung. Ia adalah
satusatunya wanita yang bisa melihat namanama
yang tertulis di udara setiap kali seseorang
terkena pukulan mematikan. Nama itu muncul
sebelum lawan tumbang: bukan nama petarung, tapi
nama orang mati.
Wanita itu bernama Surti, putri bungsu dari
almarhum Haji Ridwan, pedagang sembako yang
hartanya menyebar ke 17 warung kelontong dan
tiga gudang di pinggir kota. Warungwarung itu
kini dikuasai kakakkakaknya, yang mengusirnya
setelah ayahnya meninggal mendadak usai shalat
Subuh. Ia tidak punya surat atau saksi—hanya
sebuah kalung besi berlambang matahari terbit,
warisan terakhir sang ayah.
Turnamen Bela Diri itu bukan olahraga. Ia
berlangsung tanpa pengumuman, tanpa hadiah resmi,
tanpa panitia. Pesertanya adalah mereka yang
merasa dirugikan, yang hatinya penuh dendam,
yang percaya bahwa kekuatan fisik bisa mengubah
nasib. Tapi syaratnya ganjil: setiap peserta
harus membawa sesuatu dari orang mati—sepotong
rambut, foto rusak, atau benda yang pernah
disentuh almarhum. Dan begitu pertarungan
dimulai, arwaharwah itu ikut turun—menumpangi
tubuh petarung, mengarahkan tinjunya,
membelokkan tendangan.
Dunia mulai bergeser secara halus. Lampu jalanan
padam tepat saat seseorang tereliminasi. Suara
azan magrib terdengar dua kali dalam sehari.
Anakanak kecil di sekitar lokasi turnamen mulai
bicara dengan suara yang bukan milik mereka. Ini
adalah mekanisme baru dari era modern: teknologi
tidak maju, tetapi dunia antara hidup dan mati
menjadi tembus pandang, karena kemarahan
kolektif yang tidak pernah diselesaikan.
Surti tidak bertarung. Ia menjadi wasit tak
resmi. Ia masuk ke arena ketika dua petarung
saling menahan pukulan di udara, tubuh gemetar,
mata berkacakaca—karena arwah yang menumpang
ternyata saling mengenal. Saat itulah ia
menyadari: kalung matahari terbit itu bukan
sekadar simbol. Itu adalah "tanda
terima" dari
alam lain. Ayahnya bukan mati biasa. Ia gugur
sebagai salah satu pendiri turnamen ini puluhan
tahun lalu, korban dari ritual yang gagal
dikendalikan.
Peraturannya satu: siapa pun yang menang tiga
ronde berturutturut, berhak mengajukan satu
permintaan pada dunia. Bukan uang, bukan
kekuasaan—tapi perubahan nyata. Seorang nelayan
pernah meminta laut kembali bersih, dan esoknya
ikan kembali berdatangan. Seorang ibu pernah
meminta anaknya yang hilang pulang—dan ia muncul
di depan pintu rumah, basah kuyup, tanpa ingatan
lima tahun terakhir.
Tapi ada larangan keras: permintaan tidak boleh
menyakiti orang lain secara langsung. Jika
dilanggar, tubuh si pemenang akan hancur dari
dalam, seperti terbakar asam, dan arwahnya
terjebak sebagai penunggu lapangan—seperti
gendang ajaib yang masih berbunyi tanpa tangan.
Surti naik ke tengah arena dengan kalung di
tangannya. Ia bukan petarung. Tapi karena ia
satusatunya yang bisa membaca nama arwah, maka
aturan turnamen mengizinkannya menggantikan
petarung yang pingsan. Ia bertarung bukan untuk
menang, tapi untuk menyampaikan pesan dari
ayahnya: turnamen harus diakhiri. Karena setiap
kali digelar, dinding antara dunia semakin tipis,
dan rohroh yang marah tidak lagi bisa
dikendalikan.
Pada ronde terakhir, ketika petarung terakhir—
seorang mantan preman pasar—terjatuh karena
arwah ibunya sendiri menolak membantunya, Surti
mengangkat kalung itu ke udara. Kalung itu
bergetar, lalu meledak menjadi cahaya biru yang
menjalar ke seluruh area. Semua arwah mundur.
Gendang berhenti. Lampu kembali normal.
Keesokan harinya, pasar malam tidak pernah
bangkit lagi. Warungwarung Surti dibuka kembali,
bukan dengan modal saudara, tapi dengan bantuan
warga yang mengingat apa yang terjadi. Tapi di
pojok gang sempit, sesekali masih terdengar
denting logam—seperti kalung yang jatuh. Dan
anakanak kecil tahu: jangan main di sana setelah
magrib. Karena dunia sudah berubah. Dan
perubahan itu tidak pernah benarbenar selesai.


