Jakarta macet bukan karena kendaraan, tapi
tumpukan gerobak dan tubuh bersimbah darah yang
tidak bangkit lagi—zombie hasil dari vaksin
murah untuk rakyat miskin yang bocor dari
laboratorium negara. Dunia berubah: hukum
digantikan oleh refleks, uang tak laku, hanya
kekuatan fisik dan kecepatan yang dihormati. Di
Pasar Minggu, mayatmayat merangkak dari got dan
warung kopi, mencium bau manusia lewat asap sisa
nasi goreng.
Dalam chaos itu, Juki, preman pasar yang dulu
ditakuti karena pukulan maut dan taruhan sabung
ayam, terbangun di tempat yang sama—hari Selasa,
jam 5 pagi, bunyi azan Subuh dari masjid dekat
gapura pasar. Ia mati kemarin—dihajar zombie
setelah kabur dari utang judi—tapi kini hidup
lagi, tanpa luka. Hari bergulir persis seperti
sebelumnya: pedagang buka lapak, anak sekolah
lewat, mobil ambulans mogok di depan toko
kelontong. Ia coba lari ke luar kota, tapi saat
jarum jam menunjuk pukul 18.00, semuanya hilang—
mati tertabrak truk pengangkut babi, karena
jalan tetap macet, dan zombie sudah menjalar.
Kali ketiga, ia sadar: selama masih bertindak
seperti preman—mencuri, memukul, mengancam—waktu
akan membunuhnya dan mengulang. Aturan tak
tertulis mulai menggigit: hanya yang berubah
perilakunya yang bisa maju. Ia coba diam, tidak
ngomel, bantu nenek angkat sayur. Tapi saat ia
pukul pembegal di gang karena emosi, ledakan
rasa sakit di kepala—dan kembali lagi ke azan
Subuh.
Empat kali, tujuh kali, dua belas kali—semua
gagal. Sampai suatu hari ia bawa air minum untuk
penjaga pos kamling yang biasanya diintimidasi,
dan tidak marah saat dagangannya diinjak zombie
setengah mati. Waktu tidak berhenti. Ia sampai
ke malam tanpa kekerasan. Saat jam menunjukkan
18.00, langit tidak gelap oleh asap kebakaran.
Ia mendengar suara baru: burung pipit, bukan
jeritan.
Ia tidak diseret ke dimensi lain. Ia hanya
berjalan ke ujung pasar dan melihat matahari
terbenam tanpa alarm, tanpa mayat bergerak. Di
tanah retak dekat tiang listrik, ia temukan
kalender plastik—tanggalnya berganti. Dunia
masih kiamat, tapi ia lolos dari lingkaran. Esok
bukan ulangan. Ia duduk, makan nasi bungkus
dingin, dan tertawa—pertama kalinya dalam hidup
tanpa paksaan, tanpa topeng.
Zombie masih ada. Kota belum pulih. Tapi seorang
preman tidak lagi butuh kekerasan untuk hidup.
Waktu memberinya ganjaran: kesempatan menjadi
manusia.


