Di tengah hutan lebat Nusantara yang berubah

menjadi medan perang, seorang wanita bernama

Siti Ratu melangkah keluar dari kandang ular

emas yang dulu menyembunyikannya. Ular itu, yang

berasal dari sisasisa kerajaan langit yang

runtuh, telah memberinya kekayaan tak terbatas—

emas, ilmu, dan kekuatan untuk mengubah dunia.

Tapi kekayaan itu juga membawa kutukan: darahnya

mengalir seperti racun, membusuk segala sesuatu

yang ia sentuh.

Ia bukan istri resmi si penguasa baru, Raden

Wijaya, tapi selir yang cerdik. Ia tahu bahwa

kekayaannya adalah senjata terbaik untuk

menggulingkan kekuasaan lama, tapi ia juga tahu

bahwa kebencian akan dirinya akan muncul begitu

saja. Maka ia merancang strategi perang yang

biadab: menyerang desadesa kecil terlebih dahulu,

memperkaya diri, lalu menyuruh penduduknya

melawan satu sama lain.

Tapi ketika Raden Wijaya mulai curiga dan

mencoba menghentikan rencananya, Siti Ratu tidak

bisa lagi mengendalikan kekuatan dalam dirinya.

Darahnya mengalir ke tanah, mengubahnya menjadi

lahan mati. Pohonpohon mati, sungai mengering,

dan hewanhewan berubah menjadi makhluk beracun.

Dunia yang dulunya hijau kini menjadi tempat

yang dipenuhi kesedihan dan kebinasaan.

Dalam satu malam, ia memutuskan untuk mengakhiri

segalanya. Dengan strategi terakhirnya, ia

menyebarkan racun darah ke seluruh wilayah,

memastikan bahwa tak ada yang bisa hidup

setelahnya. Kekayaannya hilang, kekuatannya

lenyap, tapi ia berhasil mengubah dunia menjadi

tempat yang tak pernah bisa dikembalikan lagi.

Siti Ratu menghilang, namun jejaknya tetap ada.

Hutan Nusantara kini hanya tinggal legenda, dan

orangorang yang tinggal di sana masih

menceritakan kisah tentang wanita yang membawa

kekayaan mendadak, namun juga kebencian yang tak

terhindarkan.