Desa Karangmangu di tahun 1975 dilanda kemarau
panjang. Hujan tidak turun karena pocong tanpa
kain kafan tertahan di antara dunia—tidak bisa
naik ke surga, tidak berani menyentuh bumi.
Mereka berkumpul di bawah pohon randu alas,
memilih satu perwakilan: Srintil, pocong
perempuan yang mati saat kabur dari nikah paksa.
Ia harus menikah secara syariat agar jenazahnya
diterima di akhirat. Syaratnya keras: pernikahan
harus dilakukan oleh ustadz suci, diiringi wali,
saksi, dan mahar dari daun salam ajaib yang
hanya tumbuh di puncak Gunung Lawu—dan calon
suami harus bersedia menjadi mayat hidup selama
tujuh hari.
Ustadz Fajar, pemuda karismatik dari pesantren
dekat Solo, dipanggil untuk menghentikan ritual
sesat. Ia menolak, tapi kakinya membeku di tanah
ketika mendengar nama ayahnya disebut oleh angin—
ternyata sang ayah dulu menjabat sebagai imam
desa ini dan melarikan diri setelah gagal
menikahkan pocong seribu tahun lalu. Dosa
keluarga menempel. Jika ia menolak, banjir roh
akan menggenangi desa, membekukan waktu, dan
membuat semua penduduk terjebak dalam ulang
tahun kematian mereka. Dunia mulai retak: jam
dinding berputar mundur, ayam berkokok pukul
tiga pagi setiap siang, bayi lahir sambil
tertawa ngakak.
Aliansi rahasia terbentuk malam itu juga. Fajar
bekerja sama dengan Mbah Karto, juru kunci makam
yang ternyata penjaga pintu antara dunia—dengan
syarat ia tidak boleh menyebut nama aslinya
selama tujuh hari, atau tubuhnya akan berubah
menjadi batu kapur. Mereka merancang pernikahan
palsu: Fajar akan menikahkan Srintil dengan
lelaki bayangan yang dibuat dari kain kafan dan
doa, tetapi Srintil menolak. Ia sudah jatuh
cinta pada Fajar sejak pertama kali mendengar
khutbahnya di mimpi. Cinta segitiga terjadi
bukan antara dua manusia, tapi antara manusia,
arwah, dan nasib yang digerakkan oleh rasa
bersalah.
Fajar naik ke Gunung Lawu sendirian. Di puncak,
daun salam tumbuh dari tengkorak kerbau tua.
Saat ia memetiknya, hujan turun dalam bentuk
kalender bekas—tanggaltanggal kematian melayang
seperti daun. Ia kembali ke desa, basah kuyup,
diiringi kucing hitam yang bisa bicara dalam
bahasa Arab klasik—tapi tidak boleh ditulis,
karena aturan aliansi. Kucing itu tertawa
terbahakbahak tiap kali Fajar hampir salah
langkah.
Upacara pernikahan digelar di tengah sawah. Wali
adalah patung nenek moyang yang bisa bergerak
jika didoakan tiga kali. Dua saksi dipilih dari
anak kembar yang belum lahir—mereka hadir dalam
bentuk bayangan di atas genangan air. Ketika
Fajar mengucapkan ijab kabul untuk pocong dan
bayangan, tanah bergetar. Bayangan menangis,
lalu meleleh menjadi asap putih. Srintil
berputarputar, kainnya terlepas sebagian—dan
tibatiba tertawa. Ia bukan Srintil, tapi Rara,
saudara kembar yang mati lebih dulu karena
cemburu. Dunia terbalik selama tujuh detik:
orang mati bisa makan nasi, orang hidup tidak
bisa minum air.
Aliansi rahasia pecah. Mbah Karto kehilangan
suara karena menyebut namanya sendiri saat
ketakutan. Fajar tersadar bahwa satusatunya cara
menyelesaikan cinta segitiga adalah menikahi
Srintil secara nyata—tapi dengan risiko jiwanya
ikut terkunci di alam barzakh. Ia menyetujui.
Pernikahan dilangsungkan ulang, kali ini dengan
Fajar sebagai mempelai. Ia memakai kain kafan,
duduk di pelaminan dingin, dan menerima mahar
dari daun salam yang langsung menjadi debu. Saat
akad selesai, petir menyambar. Tidak ada ledakan—
hanya suara tepuk tangan dari arwaharwah di
ranting pohon.
Hujan turun normal. Jam dinding berputar maju
lagi. Fajar tidak mati, tapi setiap subuh, ia
menemukan kain kafan di bawah bantalnya—bersih,
harum, dan sedikit lembab. Desa kembali tenang.
Namun setiap malam Jumat, sapisapi di kandang
menunduk seperti sedang shalat, dan dari
kejauhan terdengar lagu pengantin dimainkan
gendang rusak. Cinta segitiga tidak hilang—ia
menjadi legenda. Dan Fajar, sang ustadz
karismatik, kini dikenal sebagai "suami
pocong",
tokoh yang sering disebut ibuibu saat menghibur
anak yang takut hantu—sambil tertawa
terpingkalpingkal.


