Pasar Malam Tengah tak pernah benarbenar mati.
Setelah jam dua belas, kain tenda bergerak
sendiri, warung nasi bungkus muncul tanpa
penjual, dan uang logam jatuh dari udara kosong
sebagai pembayaran untuk utang tak terlihat.
Dunia ini berubah sejak Perjanjian Kabut
disepakati: setiap orang yang mati secara tak
adil selama Revolusi 1945–1949 tak lenyap, tapi
terjebak dalam bentuk bayangan, bergentayangan
di pasarpasar tradisional sebagai makhluk yang
bisa bernegosiasi, menipu, atau memeras. Hanya
mereka yang kehilangan ingatan secara paksa yang
bisa melihat wujud asli para hantu—dan hanya
wanita seperti dia yang bisa memutus rantai.
Wanita itu ditemukan telentang di depan losmen
tua, bajunya compangcamping, dompet kosong,
wajahnya basah oleh embun dan air mata yang
bukan miliknya. Ia tak tahu namanya, tapi
nalurinya langsung tahu: jangan bicara dengan
penjual es doger yang matanya tidak berkedip,
jangan makan nasi goreng dari gerobak tanpa nama,
jangan menyentuh uang seribu rupiah yang
bersinar merah. Aturan pertama dunia baru ini
menggigit ketika ia nyaris menukar cincin kawin
palsu dengan mangga kuini—bayangan seorang ibu
muncul, membekap mulutnya, membuatnya pingsan
selama tiga jam. Saat sadar, tangannya terluka,
bekas cakaran tak bisa dijelaskan oleh dokter
puskesmas.
Bayanganbayangan itu tunduk pada Preman Pasar—
tokoh yang mengendalikan arus barang magis,
mengatur siapa yang boleh lupa dan siapa yang
harus ingat. Mereka bukan sekadar pelindung atau
pemeras; mereka adalah pengadil tak resmi,
dipilih oleh Kabut karena pernah dikorbankan
oleh sistem. Salah satunya, Kang Asep, mantan
pencopet yang mati tertembak saat mencuri roti
untuk adiknya tahun 1947, kini menguasai blok
lima. Ia tak peduli pada polisi atau camat—ia
punya daftar utang darah, dan tiap transaksi di
pasar mencairkan sedikit dendamnya. Ketika
wanita itu mulai mengumpulkan potongan ingatan
lewat mimpi yang terasa nyata, Kang Asep memberi
peringatan: bakar catatan pertama, atau wajahmu
akan dikembalikan ke masa sebelum lahir.
Kemudian muncul sosok CEO Dingin dari gedung
pencakar langit di pinggir kota—Nyonya Ratna
Wulan, direktur tunggal PT Sinar Abadi Utama,
perusahaan yang diamdiam membeli "hak atas
nama"
dari para hantu dan menjualnya sebagai energi
rohani untuk proyek infrastruktur nasional. Ia
tak percaya pada doa, tapi percaya pada data.
Wajahnya tak pernah berubah ekspresi, bahkan
saat mesin di ruang bawah tanahnya menelan
bayangan hiduphidup, mengubah jeritan menjadi
listrik. Proyek Pembangkit Jiwa I terbukti
menstabilkan aliran listrik di Jawa—tapi setiap
kilowatt dihasilkan dari satu jiwa yang
dilenyapkan selamanya. Nyonya Ratna tidak marah;
ia hanya mencatat efisiensi. Ia datang ke pasar
malam bukan untuk bernegosiasi, tapi untuk
akuisisi terakhir: wanita tanpa nama,
satusatunya entitas yang bisa mengakses Memori
Akar—arsip kolektif yang tersimpan di bawah
tanah pasar, tempat semua ingatan yang hilang
berkumpul.
Preman Pasar dan CEO Dingin bertemu di tengah
lapangan bola reyot. Tidak ada tembakmenembak,
tidak ada katakata—hanya tatapan, dan satu lampu
neon yang padam tepat di atas mereka. Ini adalah
perang wilayah versus sistem. Pasar melawan
korporasi. Tradisi lisan versus database. Wanita
itu menyelinap ke bawah panggung hiburan dangdut,
tempat pintu menuju Memori Akar tersembunyi di
balik poster film lawas. Untuk membukanya, ia
harus mengorbankan sesuatu yang benarbenar
diingat—dan ia memilih kenangan terakhir tentang
ibunya menyalakan lilin saat listrik padam.
Memori Akar meledak keluar: ia ternyata putri
bungsu dari kepala desa yang menolak menyerahkan
tanah ulayat kepada Belanda, dibunuh secara
massal tahun 1948, jasadnya dikubur di bawah
fondasi pasar. Ingatannya sengaja dihapus oleh
Kabut agar tidak memicu pemberontakan baru. Tapi
sekarang, fakta itu tidak bisa ditelan lagi.
Bayanganbayangan di pasar berdiri tegak,
mengenali wajahnya dari foto usang di dompet
yang hilang. Mereka tidak menangis—mereka mulai
bernyanyi lagu perjuangan, suara mereka
menggetarkan tiang listrik, merusak sinyal
satelit, membuat mesin PT Sinar Abadi Utama
panik.
Di pagi buta, pasar dibersihkan oleh warga tanpa
komando. Tendatenda roboh sendiri. Uang logam
ajaib meleleh menjadi timah. Kang Asep
menghilang—tapi sepatu buteknya ditemukan rapi
di depan gapura desa. Nyonya Ratna Wulan
membatalkan proyek Pembangkit Jiwa II, tanpa
pernyataan pers. Ia hanya memandang laporan
kerugian, lalu membakarnya di tong sampah kantor.
Wanita itu tidak kembali ke rumah sakit. Ia
duduk di bangku taman dekat warung kopi, minum
teh tubruk, menulis nama aslinya di buku tulis
murah: Siti Rahayu. Angin pagi membawa bau tanah
basah dan nasi uduk. Ia tidak tersenyum lebar,
tapi napasnya lebih ringan—seolah beban yang
dulunya terasa seperti dosa, kini hanya kenangan
yang layak dipegang. Seorang anak kecil
meletakkan bunga kamboja di samping kakinya. Ia
biarkan saja. Dunia tidak berubah sepenuhnya—
tapi aturan telah retak, dan kali ini, rakyat
kecil yang menentukan cara menyambungnya.


