Pria itu berdiri di antara kerumunan di Jalan
Cikini, Jakarta. Suara tembakan dan soraksorai
memecah langit. Ia menutup mata, mencoba
mengingat katakata ayahnya: "Warisan bukan hanya
harta, tapi cara kita bertahan."
Tapi hari ini, warisan itu adalah suratsurat
rahasia yang disembunyikan di bawah lantai rumah
keluarga.
Ketika pasukan Belanda membongkar ruang bawah
tanah, pria itu melompat ke balik dinding.
Suratsurat itu menyimpan informasi tentang
pengkhianatan para pejabat pemerintah sementara.
Ia harus memilih: menyelamatkan surat atau
menyelamatkan keluarga yang ditahan.
Dia memilih surat. Dengan bantuan seorang
perempuan dari desa, ia mengangkut dokumen itu
ke kamp gerilya. Tapi di tengah jalan, mereka
disergap. Perempuan itu tertembak. Pria itu
membawanya ke gubuk di hutan, tetapi dia sudah
mati.
Ia memasukkan surat ke dalam tumpukan kayu bakar.
Di sana, ia menemukan tulisan tangan ayahnya:
"Jangan biarkan kebenaran mati karena ketakutan.
"
Di malam hari, pria itu kembali ke Jakarta. Ia
melemparkan surat ke dalam api besar di depan
markas militer. Asapnya menghalangi mata para
prajurit. Di balik api, ia melihat bayangan
ayahnya tersenyum.
Warisan itu tidak hilang. Ia telah menjadi
bagian dari riwayat yang tak bisa dipadamkan.


