Jakarta 1946 musim kemarau panjang. Pasar Tanah
Abang bukan lagi tempat jual beli, tetapi medan
perebutan pengaruh antar kelompok pemuda
bersenjata. Di antara pedagang yang bersembunyi,
Darmin, bekas jawara pasar yang dulu ditakuti
karena pukulan mautnya, kini hanya menjaga
warung tua milik adik iparnya. Ia menolak ikut
milisi mana pun, meski banyak yang memintanya.
Dunia telah berubah: negosiasi politik tak bisa
dihentikan dengan tonjokan, dan senapan Belanda
tidak mengenal jagoan pasar.
Pada suatu pagi, mayat seorang pemuda ditemukan
di dekat tumpukan sayuran busuk—adik ipar Darmin,
leher tergorok, tangan masih menggenggam bendera
merahputih compangcamping. Dari saku celananya
ditemukan surat singkat: nama Kolonel Van der
Meer, komandan pos tentara NICA di Gambir,
tertulis di atas kertas pembungkus roti. Darmin
diamdiam menyimpan surat itu. Tidak ada seruan
balas dendam di hadapan kerabat. Ia hanya
membersihkan tubuh sang adik, menggali kubur
sendiri di belakang rumah, dan mengunci warung
selama tiga hari.
Di malam ketiga, Darmin menyelinap ke pos
militer Belanda di pinggir kota, bukan sebagai
pejuang resmi, melainkan sebagai bayangbayang
dari masa lalu yang tak tercatat. Ia tidak
membawa senapan, hanya pisau dapur dan topeng
kain hitam. Dalam penyusupan, ia membakar gudang
amunisi dan meninggalkan simbol darah berbentuk
bulan sabit di dinding—tanda yang dulu membuat
penjaga pasar gemetar. Kabar tentang "Hantu
Pasar" menyebar cepat di kalangan pejuang lokal.
Rakyat mulai percaya bahwa roh para jawara turut
berperang.
Kolonel Van der Meer memerintahkan penculikan
lima warga sipil sebagai balasan. Mereka
dikurung di balai desa Bekasi Lama. Darmin
datang menjelang fajar, menyerahkan diri dengan
syarat sandera dibebaskan. Ia ditahan, disiksa,
tetapi tidak mengucapkan satu pun nama rekan.
Hari kedua, kabar penangkapannya mencapai markas
Tentara Nasional Indonesia. Sebuah operasi
penyelamatan digelar, dipimpin oleh Letnan
Sastro, mantan murid silat Darmin yang dulu
pernah diselamatkannya dari perkelahian maut.
Serangan dimulai saat azan subuh berkumandang.
Ledakan pertama menghancurkan gerbang barat.
Dalam kekacauan, Darmin berhasil melepaskan diri
dari ruang interogasi, meski tulang rusuknya
patah. Ia tidak kabur. Ia naik ke atap balai,
mengibarkan bendera merahputih dari kain
seragamnya yang disobek. Tembakan sniper
menghantam dadanya tepat saat bendera berkibar
sempurna. Tubuhnya jatuh di depan pintu utama,
tapi pasukannya telah sampai.
Mayat Darmin dimakamkan secara militer di Taman
Makam Pahlawan Bekasi, tanpa gelar resmi, tanpa
nama lengkap di nisan—hanya tertulis “Seorang
dari Rakyat”. Kisahnya menjadi legenda lisan:
bahwa di masa Transisi, ketika negara belum
kokoh, seorang preman memilih mati demi
menyatukan hati warga. Pengorbanannya
menginspirasi pembentukan kesatuan rakyat di
wilayah timur Jakarta. Dendam pribadi berubah
menjadi api semangat kolektif.
Dunia bergeser: dari kekuasaan fisik preman ke
kekuatan moral rakyat bersatu. Era Transisi
bukan lagi sekadar pergantian kekuasaan kolonial,
tetapi transformasi nilai—bahwa pahlawan bisa
lahir dari tempat yang tak terduga, tanpa pidato,
tanpa pangkat. Epik bukan pada kemenangan besar,
tetapi pada satu tubuh yang rebah demi
membangkitkan seribu tekad.


