Pasar Gede Mataram malam hari tidak pernah
benarbenar sepi. Di tengah deretan kios yang
sudah dikunci, Darma masih duduk di bangku bambu,
tangannya memeluk pentungan besi. Ia bukan
penjaga resmi, tapi siapa pun tahu: siapa yang
mengganggu pasar, akan bertemu dengan tulangnya
yang patah. Kekuasaannya lahir dari ketakutan,
bukan jabatan. Setiap minggu, ia tarik uang
pelindung dari pedagang kecil. Mereka bayar
karena takut, bukan karena hormat.
Suatu subuh, saat membersihkan lorong belakang
untuk menghindari razia Satpol PP, cangkulnya
menyentuh sesuatu yang keras. Bukan batu.
Terowongan sempit terbuka—dindingnya dari tanah
liat kering bercampur abu tulang. Di dalamnya,
duduk sebuah kursi rendah dari kayu nangka tua,
diukir dengan wajah pocong tanpa kain kafan.
Darma merasakan angin dingin menjalar dari
lubang itu meski udara pagi begitu lembap. Ia
turun. Duduk.
Saat pantatnya menyentuh takhta, seluruh pasar
bergetar. Lampu neon padam satu per satu. Jam
dinding berputar mundur. Seekor ayam mati
berdiri lagi selama tiga detik sebelum ambruk.
Dunia tidak rusak—tapi aturannya berganti. Siapa
yang duduk di takhta, bisa mengatur aliran roh
pasar: roh penjual curang, pembeli serakah,
hantu korban kecelakaan lalu lintas. Mereka
muncul sebagai bayangan putih, mengambang di
antara kios, mengintip dari balik terpal.
Darma menggunakan kekuatan itu. Pedagang yang
menolak bayar iuran lenyap semalam—ditemukan
tergantung di tiang listrik, kain kafan melilit
leher, wajahnya mirip ukiran di takhta. Tak ada
polisi yang berani masuk pasar lagi. Waktu mulai
melengkung: siang terasa pendek, malam memanjang.
Anakanak yang bermain di lapak tua mendadak
bicara dengan suara nenek mereka yang sudah mati.
Namun aturan pertama menggigit: darah keluarga
harus dibayar untuk setiap perpanjangan
kekuasaan. Kakak perempuannya, Surti, tibatiba
batuk darah saat sedang memasak nasi goreng.
Jatuh tanpa diagnosis. Saat Darma kembali ke
takhta, ia temukan rambut panjang di sandarannya—
rambut Surti. Aturan kedua: takhta tidak boleh
kosong lebih dari tujuh jam. Jika ditinggal, roh
pasar akan memilih pengganti—dan mereka memilih
anak kecil.
Darma mulai tidak pernah tidur. Ia gendong
takhta ke atas gerobak dorong, berkeliling pasar
seperti barang dagangan. Wajahnya bengkak, mata
merah, gigi tanggal satu per satu. Tapi pasar
tunduk. Uang mengalir deras. Ia bahkan paksa
lurah datang bersujud di depan kios bumbu. Namun
pada malam ketujuh, darah keluar dari telinganya.
Bayangan pocong duduk di sampingnya, diam.
Subuh tiba. Takhta kosong. Darma tergeletak di
tanah, tubuhnya kering seperti mumi. Dari bawah
tanah, suara tertawa anakanak terdengar—tapi
dari mulut mereka yang tertawa adalah gigi hitam
dan lidah panjang. Kursi kayu kini lebih tinggi.
Di atasnya duduk bocah enam tahun, mata merah,
memegang pentungan besi yang dulunya milik Darma.
Pasar hidup. Tapi bukan lagi milik manusia.
Setiap malam, pedagang baru yang rakus akan
diajak turun ke terowongan. Dan selalu ada yang
duduk.


