Kampus Universitas Cahaya Bunda di lereng Dieng

bukan kampus biasa—sejak zaman kolonial, alam

ghaib menjadikannya pusat penyeimbang arwah

leluhur. Setiap dua puluh tahun, Roh Penjaga

mengadakan Takhta Darah: sayembara gaib di alam

mimpi antarmakhluk halus untuk menentukan Ratu

Pocong baru yang akan mengatur ketertiban roh di

Jawa Tengah. Hanya makhluk beraura suci atau

terlalu dosa yang bisa masuk arena mimpi itu.

Dosen muda Ustadz Farid, lulusan pesantren Timur

Tengah, ditugaskan mengajar akhlak di kampus itu.

Ia dikenal karismatik karena senyumnya

menenangkan dan sorot matanya seperti membaca

hati. Ia tidak percaya dunia ghaib—sampai ia

tertidur dalam ruang doa kuno di gedung tua dan

bangun dengan kain kafan melilit kakinya. Aturan

pertama: siapa pun yang terbangun dengan kain

kafan harus ikut Takhta Darah. Menolak? Akan

dilupakan selamanya oleh semua orang hidup.

Farid dipaksa masuk mimpi sakral. Di sana, para

peserta adalah kuntilanak penghuni toilet,

lelembut juru kunci candi, hingga pocong mantan

rektor yang bunuh diri tahun 1965. Mereka

bertarung dengan doa, syair, dan ilusi dosa.

Farid lolos bukan karena kekuatan, tapi karena

satu aturan aneh: siapa yang paling tidak ingin

menang, justru punya peluang tertinggi. Niatnya

murni—ia hanya ingin pulang.

Di dunia nyata, ia mulai dekat dengan Dini,

mahasiswi semester akhir yang diamdiam adalah

jelmaan Ratu Kuntilanak dari masa lalu. Romansa

kampus tumbuh: mereka sering bertemu di

perpustakaan malam, saling pinjam jilbab dan

sarung, berbagi nasi bungkus di bawah pohon asem

kuno. Tanpa sadar, cinta mereka melanggar

larangan tertua: hubungan antara penjaga iman

dan ratu ghaib akan membuat alam roh goyah.

Aturan kedua muncul: jika cinta terlarang

dikonsumsi, Takhta Darah otomatis batal dan

dunia nyata digantikan oleh alam bayangan selama

seribu hari. Farid dan Dini belum bersatu secara

fisik, tapi tatapan mereka sudah cukup membuat

langit Dieng gelap tiga hari. Arwah mulai keluar

dari kuburan, bukan untuk menyerang, tapi untuk..

. menari.

Puncaknya terjadi saat upacara penobatan di

tengah lapangan kampus. Farid, yang ternyata

adalah jelmaan ulama wali penyamar dari abad

ke16, dipilih sebagai Raja Pocong—makhluk paling

suci yang rela turun level demi cinta. Tapi

alihalih mengambil mahkota, ia tertawa. Tertawa

panjang, keras, sampai air mata mengalir. Semua

roh ikut tertawa—termasuk Dini. Tawa itu

membatalkan Takhta Darah. Dunia kembali normal.

Esok harinya, kampus dibuka seperti biasa. Farid

menghilang dari daftar dosen. Tapi setiap Jumat

pagi, mahasiswa melihat sosoknya duduk di bangku

taman, membaca AlQur’an sambil tersenyum. Di

sampingnya, kursi kosong bergetar pelan. Angin

berhembus, membawa aroma kemenyan dan suara tawa

kecil yang hilang di antara daun.