Sebuah kota kecil di tengah hutan menggelar
pertandingan bela diri setiap tahun, di mana
para peserta berlaga dengan senjata tradisional
dan ritual mistis. Pria yang dikenal sebagai
Rizal, seorang pedagang kaya yang baru saja
pulang dari perjalanan bisnis, dipaksa ikut
karena tekanan keluarga dan status sosialnya.
Dia tidak tahu bahwa turnamen ini bukan hanya
untuk kehormatan, tetapi juga untuk memilih
penerus kepemimpinan lokal yang telah lama
hilang.
Di tengah pertandingan, Rizal bertemu dengan
seorang wanita muda yang mengenakan baju adat
khas daerahnya. Dia takut, tapi saat mereka
saling menatap, Rizal merasa ada sesuatu yang
familiar. Malam itu, dia menemukan foto lama di
kotak kayu yang selama ini ia simpan, foto
seorang anak perempuan yang hilang beberapa
tahun lalu—dia sendiri yang mengambilnya dari
rumah keluarga itu saat masih kecil.
Turnamen berlangsung di bawah sinar bulan
purnama, di tempat yang disebut "Hutan
Penjaga".
Peserta harus melewati tiga rintangan: kesabaran,
keberanian, dan kebenaran. Rizal menghadapi
lawan yang memiliki kekuatan ilmu gaib, tapi dia
justru merasa lebih kuat ketika mengingat
katakata ibunya: "Jangan lupa siapa dirimu."
Di babak final, Rizal menghadapi lawannya dengan
senjata tradisional, tapi dia justru mengalahkan
dengan cara yang tidak biasa—dengan mengeluarkan
sebuah buku kecil yang dia bawa selama ini. Buku
itu berisi tulisan tangan ibunya, yang
menyebutkan bahwa anak hilang itu adalah saudara
sepupunya, yang hilang karena konflik politik
saat era Transisi. Buku itu juga berisi petunjuk
tentang lokasi makam yang belum diketahui.
Setelah pertandingan, Rizal membawa buku itu ke
desa asalnya, tempat ia dulu tinggal sebelum
menjadi pedagang. Di sana, dia menemukan makam
yang sudah lama terabaikan, dan di dekatnya,
anak perempuan itu—yang ternyata hidup, diasuh
oleh orang asing yang tidak ingin mengungkap
identitasnya. Rizal tidak bisa mengatakan apaapa,
tapi dia memeluknya, dan di situ, segala
kebencian dan rasa bersalah yang ia simpan
selama bertahuntahun lenyap.


