Jakarta macet seperti biasa saat layar ponsel
Ratri berkedip tanpa abaaba—aplikasi asing
berlogo matahari terbalik muncul entah dari mana.
Ia mencoba menghapusnya, tapi jari justru
menekan tombol "Masuk Dunia". Seketika,
langit
biru berubah menjadi grid transparan, jalan raya
retak membentuk batas petakpetak, dan setiap
manusia di sekitar membeku dalam balok cahaya
biru. Dunia nyata tersegel. Sistem Game telah
aktif.
Seluruh kota kini adalah arena level satu.
Udaranya berisi notifikasi tak terlihat: misi
harian muncul di pelupuk mata, darah dan energi
terpampang di dahi orangorang yang sadar. Hukum
baru berlaku: siapa pun yang menyatakan cinta
secara langsung akan kehilangan 50% HP permanen;
siapa pun yang menolak cinta dengan dusta akan
terkena debuff kutukan diam selama 24 jam.
Aturan ini bukan teks—mereka menyatu dengan
nafas, dan melanggarnya membuat tubuh runtuh
perlahan.
Ratri, mahasiswi teknik informatika dari UI yang
dikenal karena disiplin dan ambisinya, menyadari
ia bukan korban semata. Ia mendapat quest unik:
Temukan Artefak Jiwa Nusantara, satusatunya
benda yang bisa memutus Sistem dari dalam. Peta
digital muncul di benaknya—lokasi tersebar di
lima tempat sakral yang kini berubah menjadi
dungeon: Candi Borobudur menjadi labirin arwah,
Istana Maimun berdenyut seperti jantung mesin,
dan Danau Toba mengeluarkan kabut penghapus
memori.
Ia mulai perjalanan sendiri, tapi di hutan
Gunung Ungaran bertemu Bayu—pria desa yang tidak
bisa membaca notifikasi sistem karena buta huruf
teknologi, tapi justru kebal terhadap manipulasi
emosi Sistem. Ia tidak melihat quest atau HP,
tapi merasakan getaran bumi dan bisikan leluhur.
Kehadirannya membuat aturan game goyah di
sekitarnya. Ratri menyadari: Bayu adalah NPC
unik yang bisa membimbingnya ke artefak, tapi
hanya jika ia tidak jatuh cinta padanya—karena
NPC itu dikunci oleh sistem agar mati jika
dicintai pemain utama.
Di gua bawah Tanah Lot, mereka menemukan artefak
pertama: sebuah keris tanpa bilah, hanya cahaya
merah. Menyentuhnya memaksa Ratri mengalami
kilas balik tanpa suara—gambar ayahnya menangis
di depan makam ibunya, lalu dirinya bersumpah
tak akan pernah jatuh cinta demi fokus pada
karier. Trauma itu adalah beban tersembunyi yang
membuatnya cepat naik level—tapi juga
menghalangi akses ke bagian terdalam dari sistem.
Bayu membantu membersihkan debuff dengan cara
tradisional: membakar kemenyan adat, menari
dengan gerakan nenek moyang, dan menyanyikan
kidung tanpa kata. Getarannya mengganggu
algoritma. Sistem memberi peringatan: Player
Ratri mendekati zona larangan emosional. Tapi
Ratri tidak peduli. Ia mulai merasa hangat saat
Bayu ada di dekatnya—perasaan yang tidak
terdaftar di status, tapi membuat skornya turun.
Malam sebelum masuk ke level akhir di bawah
Monas, Ratri menyadari satu hal: artefak tidak
bisa diambil oleh siapa pun yang belum membuka
hati. Ia harus merasakan cinta tanpa
mengatakannya—melawan sistem dengan diamdiam. Ia
menulis surat di daun lontar, lalu membakarnya
di hadapan Bayu. Api membentuk wajah mereka
berdua menyatu. Sistem bergetar.
Di ruang bawah tanah Monas, artefak utama muncul—
sebuah kotak kayu dari zaman Majapahit, terikat
akar beringin. Ratri menyentuhnya. Bayu
tersungkur. Darah keluar dari telinganya—karena
ia mulai merasakan cinta sebagai manusia, bukan
NPC. Tapi sistem gagal membunuhnya. Aturan
runtuh.
Kotak terbuka. Cahaya menyelimuti Jakarta. Semua
orang terbangun. Dunia normal kembali. Aplikasi
menghilang. Tidak ada yang ingat kecuali Ratri
dan Bayu.
Esok pagi, Ratri menemukan secarik kertas di
meja kopi—gambar api dari malam itu, digambar
ulang dengan tangan. Bayu tidak datang. Tapi di
pojok kertas tertulis satu kalimat pendek: Aku
sudah bisa membaca.
Hari itu, Ratri menonaktifkan semua aplikasi. Ia
mendaftar magang di desa Bayu.


