Pria itu ditemukan di hutan belakang desa, baju
robek, tangan terikat. Dia tidak ingat bagaimana
sampai di sana. Petugas desa mengira dia korban
penculikan, tapi warga mengingatkan: bulan ini
sudah tiga kali orang hilang, semua lakilaki
muda.
Dari mulutnya, terdengar ucapan bahasa asing.
Tidak ada yang mengerti. Orang tua desa
memutuskan membawanya ke pemimpin adat. Di sana,
mereka menemukan tanda bekas gigitan di lehernya—
bentuk bulan sabit yang tidak pernah dilihat
sebelumnya.
Pemimpin adat memperingatkan: musim ini bukan
musim biasa. Sejak bulan purnama lalu,
makhlukmakhluk dari zaman purba mulai bangun.
Mereka tidak lagi hanya mitos. Pria itu adalah
satu dari sedikit yang selamat dari serangan
mereka.
Dia diselidiki oleh polisi desa, tapi mereka
tidak percaya ceritanya. Hanya seorang perempuan
muda dari kota, yang datang untuk mencari
saudara lakilakinya yang hilang, mendengarkan.
Dia adalah putri dari keluarga bangsawan, tapi
kini hidup di kampung. Mereka bertemu di ruang
tamu rumah pemimpin adat, di bawah lampu minyak
yang redup.
Perempuan itu menemukan catatan lama di
perpustakaan desa: tentang "vampir
purba" yang
pernah hidup di tanah ini, dijebloskan ke bumi
oleh para pendeta. Mereka tidak mati, hanya
tertidur. Dan sekarang, mereka kembali.
Pria itu mengenali tulisan di buku itu. Dia
mengatakan dia dulu seorang peneliti, tapi kini
tidak ingat apa pun. Perempuan itu menyadari
bahwa dia memiliki darah yang berbeda. Dia bukan
manusia biasa.
Malam berikutnya, kampung dibakar. Api muncul
dari tanah, seperti mimpi buruk. Pria itu
melihat makhluk berdiri di balik api, dengan
mata seperti batu. Dia berlari, tapi perempuan
itu tetap di tempatnya. Dia menunjukkan sebuah
simbol di tangannya—seperti tanda vampir purba,
tapi berbeda.
Pria itu mengetahui bahwa dia adalah keturunan
dari mereka yang mengunci makhlukmakhluk itu.
Dia adalah penjaga. Tapi dia tidak ingat.
Perempuan itu adalah satusatunya yang bisa
mengingatkannya.
Di tengah kekacauan, mereka berdua berlari ke
hutan. Di sana, mereka menemukan kuburan
tersembunyi, dengan batu nisan yang berbentuk
bulan sabit. Pria itu mengenali tempat itu. Dia
pernah berada di sini, dalam mimpi.
Saat mereka menyentuh batu nisan, langit berubah.
Bulan purnama terlihat, tapi warnanya hitam.
Makhlukmakhluk itu muncul, tapi kali ini, pria
itu tidak takut. Dia mengangkat tangan, dan
sesuatu di dalam dirinya terbangun.
Perempuan itu melihatnya: wajahnya berubah, mata
bercahaya. Dia bukan manusia biasa. Dia adalah
penjaga.
Api di kampung telah padam. Tapi di kejauhan,
suara gemuruh menggema. Pria itu dan perempuan
itu berjalan bersama, menuju tempat baru. Mereka
tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi mereka
tahu satu hal: mereka adalah satusatunya yang
bisa menghentikan ini.
Bulan telah berubah. Dunia juga.


