Jakarta terbakar dalam diam. Gedunggedung tinggi
runtuh perlahan, ditumbuhi akar hitam yang
merayap dari tanah retak pascagempa besar dua
tahun silam—peristiwa yang kini diyakini bukan
bencana alam, melainkan awal bangkitnya
orangorang mati dari liang kubur. Kematian tidak
lagi menjadi akhir, tetapi pintu gerbang bagi
makhluk kelam yang hanya bisa dibunuh dengan api
suci atau dipanggil mundur lewat doadoa khusus
dari tradisi Islam Nusantara yang nyaris punah.
Dunia berubah: listrik padam selamanya, waktu
diukur dari azan subuh dan magrib yang masih
dikumandangkan di masjidmasjid terpencil, dan
setiap desa yang bertahan hidup harus memilih—
menjadi benteng iman atau gugur sebagai santapan
gerombolan.
Ustadz Fajar, dulu penceramah karismatik yang
kerap menyelesaikan sengketa desa dengan hikmah,
kini berjalan sendirian menyusuri bekas jalan
tol yang ditumbuhi rumput liar dan
tulangbelulang. Ia membawa AlQur’an tua warisan
kakeknya, ditulis ulang tangan oleh seorang wali
zaman Majapahit, yang diyakini memiliki kekuatan
menahan arwah sesat. Kitab itu tidak pernah
terbuka secara sempurna—setiap kali dibaca, satu
halaman lenyap, berganti mimpi yang menunjukkan
lokasi sumur kuno tempat jasad pertama bangkit.
Ia tidak mencari selamat, tapi jawaban: mengapa
Tuhan membiarkan ciptaanNya makan daging
saudaranya sendiri?
Gerombolan zombi tidak bergerak di siang hari.
Mereka terpaku seperti patung batu, tubuh mereka
mengeluarkan uap asap tipis saat matahari
mencapai puncak—tanda bahwa dunia telah tunduk
pada hukum baru: alam roh dan fisik bersatu.
Hewan peliharaan mati juga bangkit, tapi tidak
menyerang; anjinganjing itu mengawal anakanak
yang tersesat ke perkampungan, lalu mati lagi
saat fajar. Ini bukan kutukan Barat, tapi azab
lokal—ajaran kuno menyebutnya "Bangkitnya
OrangOrang yang Belum Dimaafkan".
Di lereng Gunung Lawu, Ustadz Fajar bertemu
bayangan dirinya sendiri—lelaki muda yang
mengenakan sorban sama, berkacamata, dan membawa
tas kulit identik. Bayangan itu tidak bicara,
tapi menulis di tanah dengan ranting: Kau yang
harus mati dulu. Pertemuan itu memicu Duel
Takdir: dua versi diri—yang percaya pada kuasa
ilmu dan yang telah menyerah pada kehendak
mutlak—harus saling hancurkan agar satu bisa
lanjut. Mereka bertarung tanpa senjata, hanya
dengan ayatayat yang terlontar dari ingatan.
Saat sang ustadz menang, bayangannya meleleh
menjadi asap hitam yang masuk ke dalam kitab—dan
halaman terakhir terbuka.
Di dasar goa dekat bekas makam Sunan Kalijaga,
ia menemukan pusat penyakit: sebuah sumur kuno
yang airnya berdarah. Akar hitam menjalar dari
sana, menghubungkan semua kuburan di pulau Jawa.
Ia menyadari: ini bukan wabah biologis, tapi
proses pengadilan ilahi. Jiwajiwa yang mati
dalam dosa besar, yang tidak dimaafkan keluarga,
yang kuburannya tidak diziarahi, bangkit karena
tidak diterima di akhirat maupun dunia. Mereka
tersesat—dan tanah menolak menelan mereka
kembali.
Ia turun ke sumur dengan membakar halaman
terakhir kitab sebagai obor. Api berwarna biru.
Di dasar, ia menemukan jasad pertama: seorang
pejuang revolusi yang dikubur secara diamdiam
karena dituduh pengkhianat. Tidak ada nisan.
Tidak ada doa. Ia menggali tanah dengan tangan
kosong, lalu membacakan Surah Yasin sampai
suaranya habis. Akarakar mendadak bergetar.
Seluruh pulau terasa bergetar. Lalu diam.
Pagi tiba. Gerombolan di luar goa tidak bergerak.
Tubuh mereka remuk perlahan, kembali menjadi
tanah. Angin berhembus dari timur, membawa debu
kuning yang menutup bekas jejak. Ustadz Fajar
tidak keluar dari goa. Tubuhnya tidak ditemukan.
Tapi di tiap desa yang selamat, anakanak mulai
bermimpi tentang lelaki berbaju putih yang
mengajarkan doa baru—doa untuk memaafkan yang
telah tiada.
Kitab itu lenyap. Tapi di Masjid Agung Demak,
seorang ibu menemukan lembaran kertas basah di
ambang pintu, tertulis dengan tinta hitam yang
baunya seperti tanah segar. Di atasnya tertulis
satu kalimat: Ampuni mereka, sebelum bumi
menuntut.


