Di tengah kekacauan era Transisi, tahun 1947,
desa Tanjung Raya berada di ambang perubahan.
Kekuasaan Belanda semakin melemah, namun rasa
takut masih menyelimuti masyarakat. Di sana,
Siti Rahayu, putri seorang tokoh setempat yang
menolak kerja sama dengan pihak kolonial,
dipaksa menikahi seorang guru dari kota yang
datang untuk membantu pendidikan anakanak desa.
Namun, ia justru jatuh hati pada Arif, seorang
preman pasar yang dikenal garang dan tidak
memiliki hubungan baik dengan warga desa.
Arif adalah sosok yang selama ini dihindari. Ia
dituding sebagai pengkhianat karena sering
mengganggu perdagangan resmi dan mengambil
barang milik orang kaya. Namun, di balik
sikapnya itu, ada luka yang tak pernah ia
ceritakan: ia adalah keturunan keluarga yang
pernah dibunuh oleh pihak Belanda karena menolak
menjadi agen mereka.
Siti melihat kejujuran dan keberanian Arif,
meski itu berarti melanggar norma kasta yang
ketat. Ketika ia mencoba membangun hubungan
dengan Arif secara diamdiam, kutukan darah mulai
terasa. Setiap malam, bayangan pocong
mengelilingi rumah Siti, mengingatkan bahwa
keturunan keluarga pembunuh akan terus dihantui
hukum alam.
Suatu hari, saat Arif sedang menghadapi
penangkapan oleh pihak Belanda, Siti menemukan
surat lama yang ditulis oleh kakek Arif. Surat
itu menjelaskan bahwa keluarganya bukanlah
pengkhianat, melainkan korban kesalahan sistem.
Dengan bantuan surat itu, Siti dan Arif berusaha
membuktikan kebenaran sejarah yang selama ini
disembunyikan.
Mereka mengumpulkan bukti dari para tetua desa
dan tokoh lokal, termasuk dokumentasi yang
tertinggal dari masa penjajahan. Pada akhirnya,
mereka berhasil meyakinkan pihak Belanda bahwa
Arif bukanlah pengkhianat, melainkan korban.
Namun, keberhasilan itu datang dengan harga:
Siti harus meninggalkan desa untuk melanjutkan
pendidikannya di kota.
Di tengah perpisahan, Arif memberinya sebuah
batu yang katanya berasal dari tempat nenek
moyangnya. "Ini akan melindungi kamu,"
katanya.
Siti memasukkan batu itu ke dalam kalungnya,
sebelum berlari ke stasiun kereta.
Era Transisi telah mengubah dunia, dan kutukan
darah yang menghantui Arif ternyata hanya bagian
dari sejarah yang selama ini disembunyikan.
Cinta beda kasta mereka, meski tidak sempurna,
telah mengubah nasib banyak orang. Epik, tragis,
namun juga penuh harapan.


