Desa Tengger selatan dilanda kemarau tujuh bulan
tanpa hujan. Tanah retak, sumur kering, ternak
mati berjatuhan. Para tetua menggali prasasti
tua dan menemukan ramalan: bumi akan kembali
seimbang jika darah suci desa dikawinkan dengan
keturunan Raja Mataram Kuno—perjanjian yang
pernah dilanggar leluhur mereka.
Anak perempuan petani bernama Surti, satusatunya
gadis lajang murni darah desa, ditunjuk sebagai
pengantin. Ia tidak protes. Wajahnya polos,
tangannya kasar karena kerja, tapi matanya
bersinar seperti embun pagi—tanda yang disebut
dalam naskah kuno.
Upacara akad nikah paksa digelar di tengah
reruntuhan candi kecil. Dengan api abadi menyala
tanpa kayu, para dukun menyeret Surti memakai
kain kafan merah, simbol ikatan hidupmati. Ia
dinikahkan secara adat dengan Raden Jayabaya,
pemuda bangsawan yang baru kembali dari Belanda,
keturunan langsung rumpun Mataram yang tinggal
sendirian di pendapa tua. Nikah itu bukan
pilihan, tapi hukum alam yang harus ditebus.
Saat ijab dibacakan tanpa suara (hanya gerakan
tangan dukun tertua), gempa kecil mengguncang
candi. Langit berubah jingga. Hujan turun
pertama kali setelah tujuh bulan—tapi bukan air
biasa. Setiap tetes menyimpan bayangan wajah
leluhur, dan tanah mulai berbisik dalam bahasa
Jawa Kawi. Dunia klasik kembali aktif: waktu
melambat di sawah, roh penunggu muncul di pohon
beringin, dan batubatu candi bisa berpindah
tempat saat malam tanpa bulan.
Raden awalnya menolak takdir. Ia mengira ini
kemunduran rasionalitas. Tapi saat Surti
menyentuh tanah basah dengan telapak tangan
kosong dan padi tumbuh delapan kali lebih cepat
dalam satu malam, ia sadar: keseimbangan baru
dimulai lewat tubuh dan jiwa perempuan ini.
Mereka tinggal di pendapa terpisah. Tapi setiap
subuh, Surti menanam bunga di depan kamarnya.
Setiap maghrib, Raden meletakkan buku filsafat
Eropa di ambang pintu dapur—tanpa pesan.
Lamalama, buku berganti menjadi gamelan kecil,
lalu secangkir jamu jahe yang tidak lagi dingin
saat diambil.
Ketika hujan berikutnya turun, petir menyambar
gapura utama dan membentuk saluran energi ke
pusat desa. Dari lubang itu muncul relief hidup:
dua sosok, satu petani, satu bangsawan,
berpegangan tangan di atas tanah yang terbelah.
Semua orang tahu—ini adalah penjelmaan kembali
Dewata Muda dari zaman Mataram, yang hanya
muncul saat cinta beda kasta ditebus dengan
pengorbanan nyata.
Akhirnya, Raden menemui Surti di sawah. Ia tidak
bicara. Hanya berlutut, menggenggam tanah di
samping kakinya, lalu menempelkannya ke dada—
isyarat tunduk di hadapan kekuatan yang lebih
besar. Surti tidak menoleh, tapi air mata jatuh
ke pematang dan langsung tumbuh menjadi bunga
padma putih.
Dunia tidak kembali seperti dulu. Sejak hari itu,
setiap desa di Jawa mulai mendengar bisikan dari
batu purbakala. Sistem lama—kasta, waktu, logika—
retak. Era klasik bukan sekadar kenangan; ia
hidup kembali lewat ikatan yang dulunya dihina.
Perkawinan itu tidak romantis. Tapi hasilnya
epik: bumi berputar ulang, dan Indonesia
memiliki poros spiritual yang baru.


