Desa Karangmalam masih menggunakan lentera

minyak dan surat berantai lewat sepeda ontel,

sampai sinyal WiFi aneh muncul dari makam tua.

Sinyal itu bukan dari satelit, tapi dari

reruntuhan radio Belanda yang direaktivasi oleh

aliran listrik bumi—mengubah desa jadi zona data

liar tanpa aturan negara.

Surti, satusatunya wanita yang lolos seleksi

beasiswa ke Jakarta, dipaksa pulang saat ayahnya

jatuh sakit. Desa memaksanya menikah kontrak

selama tujuh bulan dengan pria tak dikenal agar

bisa mendapat subsidi listrik dari proyek

komunitas. Syaratnya: tidak boleh membuka wajah

suami, tidak boleh menyentuh kabel router utama

di loteng masjid, dan harus memasak nasi merah

setiap Senin—tiga larangan keras dari panitia

adat.

Pada malam akad, pria itu datang berkostum serba

hitam, wajah tertutup masker kayu, hanya memberi

USB berisi kontrak digital yang otomatis hangus

jika dibuka di luar jaringan lokal. Ia dikenal

sebagai Si Tukang Klik, hacker misterius yang

pernah membocorkan hasil ujian nasional dua

belas tahun lalu—lalu menghilang setelah polisi

menuduhnya menyebarkan pocong digital lewat

Bluetooth.

Seminggu kemudian, Surti menemukan kode sandi di

balik gambar meme kucing lucu di ponsel suaminya—

kombinasi tanggal ulang tahun mereka waktu SD

dan nama burung peliharaan yang mati terbakar

saat kerusuhan 1998. Janji masa kecil mereka

ternyata nyata: “Kalau kamu juara kelas, aku

yang bakal jemput pakai sepeda roda tiga.” Ia

tak tahu waktu itu si anak lelaki sudah kabur ke

hutan setelah ayahnya ditangkap militer—dan

janji itu adalah semacam sumpah darah.

Tekanan mulai menggerogoti: ayam tetangga mati

berjejer menghadap router, bayi baru lahir punya

sidik jari digital di telapak tangan, dan imam

masjid ketahuan salat menghadap menara antena.

Surti nekat membongkar loteng. Di sana ia

temukan server dari besi campuran meteorit—

bekerja tanpa listrik, hanya dengan doa dan air

hujan.

Hacker itu ketahuan bukan orang asing. Ia Dodi,

teman masa kecilnya, yang selama bertahuntahun

hidup di terowongan bawah tanah, menyambungkan

jiwa desa ke jaringan arwah melalui frekuensi

purba. Pernikahan kontrak adalah ritual

pengganti upacara kawin tradisional—satusatunya

cara menyambungkan dua tubuh biologis agar bisa

mengakses akses penuh ke sistem.

Surti marah, lalu tertawa—terbahakbahak sampai

air mata keluar, saat tahu bahwa selama ini

semua "gangguan teknis" disengaja:

lampu padam

tiap malam Jumat karena Dodi sedang ngopi sama

hantu penjaga sumur, atau update otomatis gagal

karena pocong suka nempel di kabel LAN. Ia sadar

dunia sudah berganti mekanisme: teknologi dan

mistik bukan lawan, tapi pasangan nikah yang tak

resmi.

Di hari terakhir kontrak, Surti menolak mencabut

USB. Ia ganti pasang chip baru: berisi rekaman

suara anakanak desa bernyanyi lagu daerah,

dikodekan jadi firewall abadi. Router mati

sendiri. Sinyal lenyap. Desa kembali gelap—tapi

pagi harinya, semua lentera menyala biru, tanpa

minyak.

Dodi tak pergi. Ia muncul di dapur, tanpa masker,

memakai baju SMP yang sudah kusut. Surti

menyodorkan nasi merah. Ia makan sambil

tersenyum. Hujan turun deras, tapi sinyal WiFi

muncul lagi—kali ini dari panci nasi yang

mengepul.