Pemuda berusia 25 tahun, Arif, menyelesaikan
pendidikannya sebagai dokter di Surabaya. Ia
pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur,
tempat ia dibesarkan oleh ibu tunggal dan
saudara lakilaki yang terbunuh dalam aksi
pemberontakan. Di sana, ia menjadi satusatunya
tenaga medis yang bisa diandalkan.
Kampung itu kini berubah. Pasukan Belanda datang
lagi, bersama kelompok prokerajaan yang menolak
kemerdekaan. Pemudapemuda miskin ditarik ke
dalam pertempuran, sementara para pemimpin lokal
saling berebut kekuasaan. Arif mencoba menjaga
netralitas, tapi ketika seorang pemimpin lokal
memaksa ia menikahi putrinya untuk memperkuat
aliansi, ia tidak punya pilihan.
Ia memiliki dua orang wanita: Rani, teman masa
kecil yang selalu menemani ia bekerja di pos
kesehatan, dan Siti, putri dari pemimpin lokal
yang ingin membangun kembali kekuasaan
keluarganya. Keduanya saling merindukan, tapi
Arif tahu bahwa pernikahan paksa akan
menghancurkan hidupnya.
Dalam satu malam, pasukan Belanda menyerbu
kampung. Arif harus memilih: menyelamatkan Rani
atau melindungi Siti. Ia memilih Rani,
membawanya kabur ke hutan. Tapi di tengah
perjalanan, mereka ditangkap oleh pasukan
prokerajaan. Arif dipaksa menikahi Siti di
hadapan rakyat, sebagai simbol persatuan. Ia
menolak, tapi tahu bahwa jika ia menolak,
kampung akan dihancurkan.
Di bawah tekanan, Arif menandatangani akad nikah.
Tapi malam itu juga, ia memberi Rani obat tidur
dan mengirimnya pergi. Ia tetap tinggal, dengan
harapan bahwa suatu hari nanti, kampung ini akan
bebas, dan ia bisa kembali menemui Rani.
Perang berlanjut. Arif menjadi dokter di kampung
baru, tempat ia mengobati korban perang. Ia tak
pernah melupakan Rani, tapi ia juga tak pernah
meninggalkan Siti. Di akhir cerita, ia masih
menunggu, dengan harapan bahwa kemerdekaan akan
datang, dan ia akan punya waktu untuk memilih.


