Di tengah hutan Jawa Tengah tahun 1947, ketika
perang kemerdekaan masih menyala, Siti Aminah,
seorang selir cerdik dari keluarga petani,
menghadapi pilihan berat. Suaminya, Rudi,
seorang anggota pemuda yang aktif di organisasi
proindependen, mulai jarang pulang karena tugas
rahasia. Di sisi lain, Darto, mantan kekasih
masa kecil Siti, muncul kembali dengan janji
masa kecil yang ia ucapkan di bawah pohon kecapi:
"Kami akan bersatu saat bangsa ini merdeka."
Siti mempertahankan hubungan sembunyisembunyi
dengan Darto, mengingat janji itu, meski hatinya
masih terikat pada Rudi yang tak pernah
mengetahui tentang perselingkuhannya. Namun,
saat Rudi tertangkap oleh pasukan Belanda dan
dipenjarakan, Siti harus memilih: menyelamatkan
suaminya atau melanjutkan janji masa kecil yang
telah terlupakan.
Di tengah malam, Siti bertemu dengan seorang
lelaki asing bernama Pak Ucok, seorang tukang
jam yang mengaku bisa membaca masa depan. Ia
memberi Siti sebuah jam tangan kuno dengan pesan:
"Waktu tidak bisa dibeli, hanya bisa diatur."
Jam itu menjadi kunci untuk mengubah arah masa
depannya.
Dengan bantuan jam itu, Siti berusaha
mempercepat kebebasan Rudi, namun justru
membuatnya terlibat dalam konspirasi yang lebih
besar. Ia harus berhadapan dengan para
pengkhianat yang ingin menjual kemerdekaan
Indonesia. Di tengah kesibukannya, Darto datang
lagi, kali ini dengan informasi bahwa Rudi akan
dieksekusi dalam tiga hari.
Pada malam eksekusi, Siti menggunakan jam tangan
itu untuk mempercepat waktu, mengganti keputusan
para penjaga penjara. Rudi bebas, tetapi Darto
gugur dalam prosesnya. Siti akhirnya memilih
untuk tinggal di desanya, menjalani hidup baru
dengan Rudi, mengubur masa lalu, dan menghormati
janji masa kecil yang telah berubah menjadi
kenangan.
Tidak ada dialog. Tidak ada penyesalan. Hanya
satu keputusan yang terpahat dalam waktu.


