Di bawah langit Jakarta yang gelap, seorang

wanita bernama Siti memasuki hutan Bekasi pada

malam bulan purnama. Ia membawa kain putih dan

arloji berkarat, dua barang yang ditinggalkan

oleh anak perempuannya, Rina, yang hilang

seminggu lalu. Era klasik itu masih menyimpan

bayangan perang gerilya, sisasisa bom, dan

desasdesus tentang makhluk tak kasat mata yang

merenggut nyawa manusia.

Siti menemukan sebuah gua tersembunyi di balik

pohon jati raksasa. Di dalamnya, ia melihat

artefak antik—sebuah cincin emas dengan ukiran

simbol kematian. Namun, setiap kali ia mendekat,

suara tertawaan aneh menggema dari dinding gua.

Ia tahu, itu bukan suara manusia.

Iblis pencemburu, bernama Khasim, sudah

mengawasi Siti selama tiga hari. Dulu ia adalah

anggota milisi yang kehilangan istrinya dalam

serangan tentara Belanda. Sekarang, ia menjelma

menjadi makhluk yang menghancurkan keluarga

orangorang yang ia anggap bersalah. Ia mengira

Siti adalah penyebab hilangnya Rina, karena di

hari terakhir Rina pergi, ia sempat bertemu

dengan seorang lelaki asing yang mengenakan

cincin sama seperti yang Siti temukan.

Khasim menyerang Siti di gua itu. Ia

memperlihatkan kekuatannya: badai api yang

muncul dari tanah, dan bayanganbayangan masa

lalunya yang menghantui. Tapi Siti tidak mundur.

Dengan keyakinan bahwa Rina masih hidup, ia

menggenggam cincin itu dan berdoa.

Malam itu, cuaca berubah drastis. Angin kencang

menggoyang pohon, petir menyambar langit, dan

gua mulai runtuh. Cincin itu memancarkan cahaya

biru yang mengubah kekuatan Khasim—dari

penghancur menjadi pelindung. Ia terjatuh, dan

saat ia bangkit, ia menemukan Siti berdiri

dengan Rina di sampingnya.

Era klasik berubah di malam itu. Artefak itu

tidak hanya mengembalikan anak, tapi juga

menghentikan kekerasan yang telah menggerogoti

hati manusia. Khasim, kini dengan bentuk manusia

lagi, mengucapkan permintaan maaf yang terlambat.

Siti pulang dengan Rina di tangannya, dan cincin

itu disimpan di tempat aman. Dunia tidak akan

pernah sama lagi.