Pria dari kampung pesisir menggantungkan harapan
pada bantuan seorang mentor bijak yang
bersembunyi di hutan. Di tengah kekacauan era
Transisi, ia diberi tugas menyerahkan surat
rahasia ke kota yang dihuni oleh kasta tertinggi.
Surat itu menyimpan bukti bahwa ayahnya adalah
pengkhianat yang membantu kolonialis. Pria itu
memilih untuk tidak membaca isi surat, tetapi
langkahnya dibekap oleh dua orang penjaga kota
yang menuntut dia memberikan bukti kesetiaannya.
Mentornya mengirimkan pisau berlapis emas
sebagai alat untuk menguji keteguhan hati. Pria
itu memotong tangannya sendiri di depan para
penjaga, menunjukkan bahwa ia lebih setia pada
kebenaran daripada pada hidupnya.
Para penjaga menolak percaya, mengira ia
berpurapura. Mereka menantangnya untuk duel
takdir di pasar kota, di mana pemenang akan
dianggap sah sebagai warga kasta tinggi.
Dalam pertarungan yang berlangsung di bawah
sinar bulan, pria itu menggunakan pisau emas
untuk menyerang, tetapi justru menghancurkan
senjata lawannya. Para penjaga terbuka mata,
mengakui bahwa ia layak menjadi bagian dari
kasta mereka.
Namun, saat ia mulai merasa aman, surat rahasia
itu terbuka di tangan seorang perempuan dari
kasta tinggi. Isinya mengungkap bahwa ia adalah
putra saudara tirinya, yang telah hilang selama
perang.
Perempuan itu menolak untuk mengakui hubungan
itu, tetapi keputusan terakhir diambil oleh raja
kota, yang menetapkan bahwa pria itu harus
meninggalkan kota dalam semalam atau dihukum
mati.
Di bawah tekanan, pria itu memilih untuk pergi,
meninggalkan segalanya. Saat ia berjalan keluar
kota, ia mendengar suara mentornya berbisik:
"Jangan takut, nasibmu sudah berubah."
Di kejauhan, api pembakaran kota mulai berkobar,
sementara langit malam berwarna merah seperti
darah.


