Desa Karangkembar terjepit antara pasukan
Belanda yang mundur dan kelompok laskar yang
semakin liar. Awan hitam tak kunjung hujan sejak
musim kemarau tahun lalu—tanah retak, sawah
tandus, waktu terasa melambat seperti ditahan
sesuatu. Warga mulai percaya angin dari utara
membawa bisikan arwah.
Raka pulang setelah empat tahun hilang di medan
perang tanpa seragam, hanya membawa surat tugas
dari komandan gerilya: evakuasi keluarga kepala
desa yang ditahan di bekas pos militer kolonial.
Ia tidak tahu bahwa dalam rumah tua di ujung
dusun, istrinya Dina menunggu dengan bayi yang
belum pernah dilihatnya.
Malam pertama kembalinya, kabut turun tebal
sebelum waktu maghrib. Raka berjalan menyusuri
jalan setapak menuju rumah mertua, namun kakinya
membeku saat melihat Dina berdiri di bawah pohon
aren—dengan bayi di gendongan, tapi wajahnya
basah oleh air mata yang tidak menetes. Ia balik
arah, tapi jalan memutar ke tempat yang sama.
Tiga kali. Empat kali. Hingga ia paham: desa ini
tidak membiarkannya pergi.
Di balik tembok bambu, Dina merawat anak itu
sambil menatap foto Raka yang terbakar separuh.
Ia tidak tahu bahwa bayi itu bukan darah
dagingnya, melainkan hasil ritual malam silap
yang dilakukan ibunya agar Raka cepat kembali—
menukar jiwa calon anak kandung dengan entitas
yang haus ikatan. Bayi itu tidak menangis. Ia
hanya memandang. Dan setiap orang yang
dipandangnya, mimpi buruknya menjadi nyata.
Ketika Raka akhirnya masuk rumah, Dina tersenyum
lega—tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
Malam itu, suhu ruangan turun drastis saat Raka
mencoba mendekap bayi. Pintupintu rumah lain
terbuka sendiri. Di seluruh desa, orangorang
bangun karena mimpi tentang kematian mereka
sendiri—digantung di pohon, dibakar hiduphidup,
atau dikubur dalam lumpur sawah. Semua mimpi itu
berasal dari satu sumber: rasa cemburu yang
mengendap di dalam tubuh si bayi, warisan dari
roh yang dirujuk ibu Dina dari alam bawah.
Aturan mulai retak. Orang mati bisa bicara lewat
mulut ayam jantan. Bayangan tidak lagi mengikuti
cahaya. Siapa pun yang menyatakan cinta pada
Dina—termasuk Raka—akan didatangi mimpi bahwa ia
telah membunuhnya. Laskar setempat menuduh Raka
matamata, tapi ketika mereka datang menyerbu,
tubuh mereka terpental oleh tembok energi yang
hanya terlihat saat hujan turun.
Raka menyadari misinya bukan menyelamatkan
keluarga dari penjajah—tapi dari dunia yang
sudah bergeser porosnya. Ia harus memilih:
membawa Dina dan bayi pergi, atau menghadapi
asalusul bayi itu di gua bawah makam kuno,
tempat arwah yang cemburu lahir. Ia memilih gua.
Dalam gua, waktu berhenti. Ia bertemu wujud asli
si bayi: sosok iblis berkulit bening yang
mengaku dicintai Dina dalam mimpi selama Raka
tiada. Iblis itu berkata tanpa suara: aku lebih
setia daripada kamu. Raka tidak melawan. Ia
melepas kalung logam tentaranya—satunya benda
yang masih menyambungkannya ke dunia nyata—dan
menyerahkannya sebagai tumbal.
Gua runtuh. Kabut lenyap pagi harinya. Desa
kembali normal. Hujan turun untuk pertama
kalinya dalam dua belas bulan. Dina melahirkan
bayi kedua—normal, menangis keras, matanya
jernih. Raka tidak pernah kembali dari gua. Tapi
setiap malam, seekor elang hinggap di atap
rumahnya, menatap Dina dengan tenang sebelum
terbang ke utara.
Warga percaya alam telah menyeimbangkan kembali.
Tapi mereka tidak tahu bahwa di bawah reruntuhan
gua, ada dua jejak kaki yang keluar—dan satu
yang masuk. Ketenangan itu rapuh. Karena cinta
segitiga tidak pernah benarbenar mati. Ia hanya
berganti wujud.


