Desa Kedungbanteng dibekukan dalam waktu 1946:
jalanjalan lumpur tibatiba menyerap semua jejak
kaki, rumahrumah lama runtuh tanpa suara, dan
petir menyambar tanah hanya saat seseorang
berbohong. Era Transisi bukan sekadar perubahan
politik—tanah itu sendiri mulai mengingkari
janji perbatasan. Setiap kata palsu membuat
tanah bergetar, setiap sumpah palsu menimbulkan
lubang hitam yang menelan orang selama tiga hari.
Pria itu, seorang jenderal perang yang dulunya
memimpin divisi pengebom di Jawa Tengah,
tersesat di sini setelah pasukannya menghilang
dalam hujan gerimis. Ia hanya membawa dua benda:
surat wasiat dari ibunya yang meminta agar ia
tidak kembali ke kampung halaman, dan sebuah
cincin besi yang dipakai untuk menandai
kelompoknya. Di desa ini, aturan baru muncul:
siapa pun yang membawa senjata akan diusir, dan
siapa pun yang berbohong akan dibiarkan
terperosok ke tanah.
Konflik Antar Klan meletus ketika dua klan desa—
Keluarga Suroso dan Keluarga Mulyadi—beradu atas
hak atas sungai kering yang kini mengeluarkan
uap panas. Pria itu, karena baju militer dan
cincin besinya, dikira agen Belanda. Diburu,
digiring ke pelataran tua, di mana warga meminta
ia bersumpah bahwa ia tidak membunuh anakanak
Suroso tahun lalu. Ia menolak. Dan tanah di
bawah kakinya menyerapnya sampai leher.
Di tengah kesunyian, ia mengingat surat ibunya:
“Anakku, jika kamu ingin pulang, jangan bawa
kebohongan.” Ia memutuskan untuk mengakui—ia
memang membunuh tiga anak itu, karena salah
satunya menodai budaya desa dengan memakai ikat
kepala khas Belanda. Ia berteriak: “Aku
berbohong! Aku bunuh mereka!” Dan tanah berhenti
bergetar.
Saat itu, sungai kering kembali mengalir. Warga
menarik tubuhnya keluar. Tidak ada amarah, hanya
pandangan kosong. Ia diberi tempat di sudut
masjid, diperlakukan seperti orang asing. Tapi
ketika malam tiba, para pemuka desa membawanya
ke tanah lapang, menyerahkan cincin besinya
kepada seorang anak perempuan dari keluarga
Mulyadi.
Mereka berkata: “Kau bukan jenderal. Kau adalah
satusatunya yang bisa hidup dalam kebenaran di
zaman ini.”
Pria itu duduk di tanah, menatap langit. Tidak
ada suara. Tidak ada peperangan. Hanya angin
yang membawa aroma tanah basah dan jerit anjing
dari jauh. Ia menangis—tidak karena rasa sakit,
tapi karena akhirnya merasa benarbenar di rumah.
Di desa itu, kebenaran telah menjadi hukum alam.
Dan politik kerajaan tak lagi soal tahta,
melainkan soal nafas yang terakhir disimpan.


