Desa Tukad Sari, 1947. Hujan deras mengguyur
tanah yang belum lepas dari bekas amukan bom
belanda. Pohon jati tua di depan balai desa
runtuh saat petir menyambar—sebuah tanda yang
dipercaya penduduk sebagai penghukum atas dendam
para pejuang yang masih berkeliaran.
Di tengah reruntuhan, sebuah tubuh muncul dari
tanah. Tidak ada cedera. Tidak ada luka. Hanya
baju kotor yang dulu milik Anak Yatim Piatu
bernama Darmawan, seorang pemuda yang lenyap
setelah penyerbuan tentara Belanda ke kampung
itu. Ia kembali dengan mata kosong, tapi bisa
bicara. Dan bicaranya bukan bahasa desa. Bukan
bahasa Jawa, tidak pula Melayu. Suaranya seperti
suara dari lubang bawah tanah.
Aturan baru berlaku: siapa yang kembali dari
mati harus disumpah di hadapan tujuh tokoh adat.
Jika tidak lolos ujian, ia akan dikubur kembali—
dengan tali khusus yang menutup mulut hingga
mati. Ini bukan ritual lama. Ini sistem baru
yang muncul setelah pemerintah sementara
melarang penyembuhan tradisional. Kini, kematian
dianggap sebagai kewajiban negara.
Darmawan diperiksa. Dalam lima hari, semua tanda
hidup lenyap—nadi hilang, napas berhenti. Namun
pada malam keenam, ia bangkit lagi. Tubuhnya
basah, tapi tanah di sekitarnya kering.
Orangorang berseru bahwa ia telah "
dipilih" oleh
roh perlawanan. Tapi tak satu pun dari mereka
tahu bahwa di dalam dada Darmawan, sesuatu sudah
berubah.
Saat pemimpin desa memerintahkan pembakaran
rumahnya untuk membersihkan "penyakit
spiritual",
api menyala—tapi tak membakar kayu. Hanya asap
hitam yang menciptakan bayangan sosok lain:
seorang prajurit Belanda yang tewas di tempat
itu tiga tahun lalu.
Pertanda berakhir. Darmawan tidak lagi hanya
manusia. Ia adalah simbol. Perlawanan yang tidak
mati. Ketegangan pecah. Warga yang tadinya ragu,
kini menyerbu balai desa dengan tombak dan
senapan. Bukan untuk menyerang—melainkan untuk
membentuk komite baru.
Di pagi hari berikutnya, desa tidak lagi
memiliki pemimpin. Tapi Darmawan berdiri di atas
pohon jati yang tergantung—tak tertancap, tapi
juga tak jatuh. Mulutnya tetap tertutup. Tapi
hatinya berdetak.
Ini bukan akhir. Tapi ini hasil.


