Pria berjalan di jalan sempit kota lama, tangan
menggenggam surat kabar usang. Di balik dinding
bangunan yang retak, ia mendengar suara
gemericik air dari sungai yang dulu menjadi
batas kota. Kini, sungai itu menjadi garis
pembatas antara kekuasaan kolonial dan kelompok
pemberontak.
Dari balik pintu samping, seorang lelaki tua
memberi kotak kayu berisi fotofoto berwarna.
Pria itu menolak, tapi lelaki tua menggandeng
tangannya ke arah pintu. Di baliknya, sebuah
ruangan gelap dengan lampu minyak menyala. Di
sana, ia melihat gambargambar wajah orangorang
yang mati dalam bentuk yang tidak manusia.
Di tengah malam, pria itu dibawa ke tempat
pertemuan rahasia. Di sana, para pemimpin
pemberontak berbicara tentang "kekuatan
tersembunyi" yang mereka gunakan untuk menentang
pasukan asing. Salah satu dari mereka memberinya
pisau tajam yang terbuat dari logam asing, dan
memperingatkannya: "Jangan biarkan orang asing
melihatmu."
Pria itu kembali ke rumah, tetapi istrinya
menolak untuk membuka pintu. Ia mengatakan bahwa
dia sudah berubah, bahwa dia membawa sesuatu
yang tidak bisa dipulihkan. Di luar, polisi
militer datang. Mereka mencari orang yang
membawa benda asing. Pria itu membuang pisau ke
dalam sungai, tapi air mengalir dengan warna
merah.
Keesokan harinya, semua orang di desa mengatakan
bahwa ia telah hilang. Tapi di tempat lain,
seorang pemuda muncul dengan mata bercahaya dan
bicara dalam bahasa yang tidak dikenal. Ia
berkata bahwa ia adalah pria itu, tapi ia tidak
lagi manusia.
Di dekat sungai, seorang wanita muda mengambil
pisau dari air. Ia menggigit ujungnya, dan darah
mengalir. Di hari yang sama, koran lokal
menyebutkan bahwa seorang pria muda meninggal
dalam kecelakaan. Tapi di desa, orangorang mulai
mengatakan bahwa ia masih hidup, hanya saja ia
sudah menjadi bagian dari kekuatan yang tidak
bisa dilihat.


